KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga komoditas emas internasional di pasar spot masih berangsur melemah 1,30% ke level US$ 4.067,37 per ons troi pada perdagangan Senin (13/7/2026) pukul 17:12 WIB. Tren penyusutan nilai komoditas safe haven ini kian mempertegas tekanan pasar setelah merosot hingga 5,58% dalam kurun waktu sebulan terakhir. Di tengah fluktuasi harga komoditas global yang tinggi ini, para pelaku pasar kini cenderung menahan diri untuk meracik ulang strategi investasinya.
Sinyal pelemahan tersebut turut menjadi momentum krusial bagi investor jangka panjang untuk mencermati titik masuk portofolio yang ideal.
Baca Juga: Ekspor Perdana Aluminium Buka Peluang Baru ADMR, Simak Prospek Sahamnya Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, memproyeksikan harga emas pada kuartal ketiga tahun ini masih akan bergerak terbatas dalam kisaran US$ 3.600 hingga US$ 3.900 per ons troi. "Selama pasar masih mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga pada semester II-2026, kenaikan emas kemungkinan akan terbatas," kata Brahmantya kepada Kontan, Senin (13/7/2026). Oleh karena itu, ia menyarankan para pemodal untuk menerapkan strategi akumulasi secara bertahap atau
buy on weakness guna menghadapi volatilitas. "Untuk investor konservatif saya tetap lebih menyukai emas fisik, sedangkan bagi investor yang aktif, emas futures menarik karena volatilitasnya dapat dimanfaatkan untuk memperoleh peluang keuntungan jangka pendek," jelas Brahmantya. Prospek pergerakan komoditas logam mulia ini dinilai masih akan bergerak
sideways akibat ketidakpastian data inflasi Amerika Serikat (AS). Situasi eksternal kian pelik karena pasar mulai memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada semester kedua akibat lonjakan harga energi dan risiko geopolitik global.
Baca Juga: Rapor Hijau Reksadana Saham Offshore Dolar AS Ditopang Siklus AI Koreksi harga emas saat ini juga diperberat oleh ancaman Presiden Donald Trump yang ingin menghancurkan Iran dengan 1.000 rudal sehingga memicu kecemasan pasar atas konflik yang lebih luas. "Ketegangan geopolitik memang mendukung permintaan safe haven, tetapi pada saat yang sama investor juga memburu dolar AS karena perannya sebagai petrodollar," pungkas Brahmantya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News