Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 1%, Dolar AS Sentuh Puncak Tertinggi Setahun



KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia melemah lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (23/6/2026), tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai level tertinggi dalam satu tahun.

Sentimen tersebut dipicu meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mengambil sikap lebih agresif dalam kebijakan moneternya.

Baca Juga: UPDATE-Harga Minyak Dunia Stabil, Pantau Pemulihan Arus Pengiriman di Selat Hormuz


Melansir Reuters, harga emas spot turun 1,7% menjadi US$ 4.121,09 per ons troi. Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat menyentuh level US$ 4.090,27 per ons troi, yang merupakan posisi terendah sejak 11 Juni 2026.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah 1,5% ke level US$ 4.139 per ons troi.

Secara keseluruhan, harga emas telah terkoreksi lebih dari 3% sejak pertemuan Federal Reserve pekan lalu.

Analis ActivTrades Ricardo Evangelista mengatakan, kombinasi penguatan dolar AS dan sikap hawkish The Fed menjadi faktor utama yang membebani harga emas.

"Penguatan dolar yang diperkuat oleh nada hawkish The Fed pada pertemuan pekan lalu menciptakan tekanan bagi harga emas," ujarnya.

Menurut Evangelista, dalam jangka menengah hingga panjang, arah pergerakan emas akan sangat ditentukan oleh kebijakan moneter AS dan kekuatan dolar.

Baca Juga: UPDATE-Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Setahun, Yen Dekati Titik Terlemah 40 Tahun

Taruhan Kenaikan Suku Bunga Menguat

Tekanan terhadap emas meningkat setelah hampir separuh pejabat The Fed dalam pertemuan terakhir mengindikasikan suku bunga masih berpotensi naik tahun ini.

Data CME FedWatch menunjukkan, peluang kenaikan suku bunga pada September kini mencapai sekitar 69%, melonjak dari hanya 29% pada pekan lalu.

Ekspektasi tersebut membuat imbal hasil aset berbasis dolar semakin menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga (non-yielding asset).

Selain itu, pasar juga menilai potensi inflasi akibat kenaikan biaya energi yang dipicu konflik Timur Tengah dapat mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Meskipun harga minyak sempat melemah setelah kemajuan perundingan damai antara AS dan Iran di Swiss, faktor tersebut belum cukup untuk mengangkat harga emas.

Baca Juga: Manchester United Amankan Lahan untuk Stadion Baru, Kapasitas 100.000 Tempat Duduk

Menanti Data Inflasi AS

Pelaku pasar kini menunggu rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan akhir pekan ini.

PCE merupakan indikator inflasi favorit The Fed dan akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Analis Standard Chartered Bank Suki Cooper mengatakan, sebelumnya pasar berharap area psikologis US$ 4.000 per ons troi dapat menjadi level penopang harga emas setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara Iran dan AS.

Namun, sentimen pasar kini berubah menjadi lebih cenderung melakukan aksi jual setiap kali harga mengalami penguatan.

Baca Juga: 5.300 Orang Masih Terjebak di Pusat Penipuan Siber Myanmar Dekat Perbatasan Thailand

Prospek Emas Masih Positif

Meski tekanan jangka pendek masih besar, sejumlah lembaga keuangan tetap mempertahankan pandangan positif terhadap emas dalam jangka panjang.

Analis Deutsche Bank Michael Hsueh memperkirakan harga emas berpotensi mencapai US$ 4.800 per ons troi pada kuartal IV 2026 dalam skenario dasar, yakni jika The Fed mempertahankan suku bunga pada level saat ini dalam waktu yang lebih lama.

Namun, dalam skenario risiko di mana The Fed menaikkan suku bunga sebanyak tiga hingga empat kali lagi, harga emas berpotensi turun hingga sekitar US$ 3.800 per ons troi.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS. Harga perak spot turun 4,7% menjadi US$ 62,12 per ons troi, platinum melemah 2,6% ke US$ 1.634,85 per ons troi, sedangkan palladium turun 2,4% menjadi US$ 1.235,06 per ons troi.