Harga Emas Dunia Berbalik Arah: Dampak Geopolitik dan Suku Bunga.



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia bergerak fluktuatif sepekan terakhir dengan tekanan yang dominan, meski sempat mengalami rebound dalam dua hari terakhir.

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas tercatat turun tajam pada periode 18-23 Maret 2026. Penurunan harian mencapai 3,74% pada Rabu (18/3/2026) , diikuti koreksi 3,51% pada Kamis dan 3,48% hingga penutupan Jumat (20/3/2026). Tekanan berlanjut pada Senin (23/3/2026) dengan penurunan 1,79%.

Namun, harga emas mulai berbalik arah dengan kenaikan 1,47% pada Selasa (24/3) dan kembali menguat 1,67% pada Rabu (25/3/2026).


Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menjelaskan tekanan harga emas pada 18-23 Maret dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang membuat harga minyak dunia naik.

Baca Juga: Bumi Resources Minerals (BRMS) Berpeluang Kembali Raih Kinerja Positif pada 2026

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi sehingga banyak bank sentral mengantisipasi dengan menaikkan suku bunga yang menghambat harga emas

"Adanya rilis data ekonomi AS (seperti inflasi atau tenaga kerja) yang lebih kuat dari ekspektasi memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer)," kata Wahyu kepada Kontan pada Rabu (25/3/2026).

Selain itu, penguatan dolar AS turut menekan harga emas. Wahyu mengatakan, hubungan terbalik antara emas dan dolar membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor global saat dolar menguat, sehingga permintaan cenderung melemah.

"Setelah mencapai rekor tertinggi sebelumnya, banyak investor institusi melakukan aksi jual untuk mengunci keuntungan," ujar Wahyu. 

Di sisi lain, kenaikan harga emas dalam dua hari terakhir dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik.

Wahyu menyebut keputusan Trump menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran serta pengajuan 15 poin proposal perdamaian kepada Iran memberikan sentimen positif ke pasar.

"Semuanya memicu harapan sehingga memicu pelemahan minyak dunia dan USD dan rebound bursa global dan juga emas," kata Wahyu.

Baca Juga: Chandra Daya Investasi (CDIA) Raih Lonjakan Pendapatan dan Laba Bersih pada 2025

Katalis lainnya datang dari pernyataan terbaru pejabat bank sentral yang mulai melunak, memunculkan harapan bahwa siklus kenaikan suku bunga telah berakhir sehingga sangat menguntungkan aset tanpa imbal hasil seperti emas. 

Meski demikian, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai kenaikan harga emas dua hari terakhir ini belum sepenuhnya meyakinkan karena teluk Hormuz masih tertutup dan harga minyak masih tinggi. 

"Secara teknis, harga emas masih bearish untuk short dan medium term, walau untuk jangka panjang masih bullish," kata Lukman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News