Harga Emas Dunia Berpeluang Naik ke US$ 4.072, Cermati Level Support Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek setelah kembali menembus level psikologis US$ 4.000 per ons troi.

Namun, pergerakan logam mulia ini masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Melansir Trading Economics pada Selasa (27/10/2026) pukul 11.00 WIB, harga emas di pasar spot berada di level US$ 4.019 per ons troi.


Harga tersebut naik tipis 0,07% secara harian, tetapi masih terkoreksi 2,59% dalam sepekan dan 2,36% selama sebulan terakhir.

Baca Juga: Laba Bersih Elnusa (ELSA) Naik 29,4% Jadi Rp 681,55 Miliar hingga September 2026

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit memperkirakan harga emas berpeluang menguat menuju area resistance US$ 4.048–US$ 4.072 per ons troi.

Peluang tersebut terbuka selama harga mampu bertahan di atas level support US$ 3.988 per ons troi.

Geraldo menjelaskan, secara teknikal, pergerakan emas atau XAUUSD pada grafik satu jam (H1) menunjukkan potensi pembalikan arah menuju tren bullish.

Sinyal ini terlihat setelah harga mengalami penolakan di area support US$ 3.988 dan membentuk pola inverse head and shoulders.

“Penolakan harga di sekitar support tersebut menunjukkan adanya respons beli yang berpotensi mendorong pemulihan,” ungkap Geraldo dalam risetnya, Selasa (27/10/2026).

Baca Juga: Investor Mulai Memanfaatkan Aset Tertokenisasi untuk Diversifikasi Portofolio

Pola tersebut mengindikasikan potensi pergeseran momentum dari bearish menuju bullish. Meski demikian, peluang penguatan masih bergantung pada kemampuan harga mempertahankan area support tersebut.

Dari sisi fundamental, pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar.

Penurunan harga energi berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, sehingga dapat memberikan ruang bagi harga emas untuk melanjutkan pemulihan.

Di sisi lain, investor perlu mencermati keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan pada 28 Oktober 2026. Keputusan dan pernyataan bank sentral AS tersebut akan menjadi petunjuk bagi pasar mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.

Baca Juga: IHSG Rebound 0,67% ke 5.409 Awal Perdagangan Selasa (27/10), Ikuti Jejak Bursa Asia

Apabila The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat, dolar AS berpotensi menguat dan menekan harga emas.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury juga dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News