KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada pekan depan. Setelah kembali menembus US$4.000 per troy ons, pergerakannya masih dibayangi arah suku bunga Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, dan perkembangan geopolitik global. Dengan demikian, prospek jangka menengahnya dinilai masih positif.
Gambaran Pergerakan Jangka Pendek Dalam rilisnya pada Minggu (8/11/2026), pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas bergerak di rentang US$3.955-US$4.269 per troy ons pada pekan depan. Dalam skenario koreksi, harga berpeluang turun ke US$4.021 pada awal pekan dan bisa melemah lebih dalam jika tekanan berlanjut. Sebaliknya, jika menguat, resistance pertama berada di US$4.139, dan penguatan lanjutan dapat membawa harga ke US$4.269 pada akhir pekan.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, memberi acuan yang sedikit berbeda. Menurutnya, US$4.000 per troy ons menjadi support penting dalam jangka pendek, sedangkan US$4.200 berpotensi menjadi resistance.
Baca Juga: Low Tuck Kwong Buka Suara soal Penjualan 30,25% Saham BYAN ke Haji Isam Faktor yang Berpotensi Menekan Harga Menurut Ibrahim, salah satu faktor penekan adalah penguatan indeks dolar AS, yang diperkirakan bergerak di kisaran 101,20-103,20 dalam sepekan. Ia juga memperkirakan The Fed berpotensi menaikkan suku bunga 25 basis poin pada Desember, mengingat kondisi tenaga kerja AS yang masih cukup kuat dan inflasi yang belum mendekati target 2%. Jika suku bunga naik lagi, aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik, sehingga menambah tekanan pada emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Faktor yang Berpotensi Menopang Harga Di sisi lain, ada beberapa faktor yang bisa menopang harga emas. Pertama, risiko geopolitik. Ibrahim menilai ketegangan AS-Iran belum sepenuhnya mereda meski ada upaya negosiasi, dan konflik di sekitar Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar. Pertemuan untuk membahas perdamaian Rusia-Ukraina juga belum tentu menghasilkan kesepakatan yang berkelanjutan, sehingga serangan yang berlanjut dapat kembali meningkatkan ketidakpastian global.
Kedua, melemahnya dolar dan turunnya imbal hasil obligasi AS. Adrian melihat rebound emas masih berpeluang berlanjut. Menurutnya, kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS dipandang pasar sebagai penyeimbang kebijakan pemerintahan Donald Trump. Hal ini meredakan ekspektasi eskalasi konflik AS-Iran, sehingga harga minyak, ekspektasi inflasi, dan imbal hasil US Treasury tertekan, sementara indeks dolar AS melemah. Kombinasi tersebut membuat emas lebih menarik, apalagi dolar yang melemah membuat harga emas relatif lebih murah bagi pembeli yang memakai mata uang lain.
Ketiga, pembelian emas oleh bank sentral. "Dari sisi struktural, pembelian emas oleh bank sentral tetap menjadi penopang. Menurut kami, pelemahan dolar dan turunnya yield adalah pendorong yang paling dominan saat ini," ujar Adrian dalam wawancara tertulis (6/11/2026). Adrian menilai penguatan emas masih bisa berlanjut selama dolar AS dan yield US Treasury tetap tertekan serta situasi AS-Iran tidak kembali memburuk.
Prospek Jangka Menengah Untuk jangka menengah, Adrian memperkirakan harga emas rata-rata US$4.500 per troy ons sepanjang 2026 dan sekitar US$4.600 pada 2027. Faktor utama yang perlu dicermati adalah arah yield US Treasury, pergerakan indeks dolar AS, dan keberlanjutan pembelian emas oleh bank sentral.
Implikasi bagi Saham Emiten Emas Dengan prospek harga tersebut, Adrian menilai emiten dengan eksposur emas yang tinggi dan prospek pertumbuhan produksi yang jelas, seperti PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), punya sensitivitas laba yang lebih besar terhadap kenaikan harga emas. Namun, potensi itu datang bersama risiko eksekusi operasional dan volatilitas harga saham yang lebih tinggi, sehingga investor perlu melihat kemampuan masing-masing emiten merealisasikan target produksi dan menjaga efisiensi biaya.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dinilai relatif lebih defensif berkat skala usaha, neraca yang kuat, dan integrasi bisnis hilir, meski emas masih menjadi salah satu kontributor pendapatan terbesarnya. Secara valuasi, Adrian menilai saham-saham tersebut masih menarik. Namun, investor perlu memperhatikan sentimen pasar saham domestik, terutama keputusan MSCI terhadap pasar Indonesia yang berpotensi menjadi pemberat. Di antara emiten tersebut, Adrian merekomendasikan ANTM dengan rekomendasi buy dan target harga Rp4.100 per saham. Pada akhirnya, pergerakan harga emas masih akan dipengaruhi tarik-menarik antara kebijakan moneter AS dan risiko geopolitik. Penguatan dolar dan potensi kenaikan suku bunga dapat menekan harga emas, sedangkan ketidakpastian global dan pembelian bank sentral berpotensi menopang permintaan terhadap logam mulia ini.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,40% ke 5.050 pada Akhir Pekan Lalu, Begini Proyeksi Senin (9/11/2026) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News