KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari dua bulan pada Kamis (20/8/2026), setelah pengumuman mengejutkan dari Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) terkait dukungan likuiditas mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar AS. Mengutip Reuters, harga emas spot relatif tidak berubah di level US$4.512,19 per ons troi pada pukul 00.31 GMT (7:31 WIB). Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$4.525,79 per ons troi, yang merupakan level tertinggi sejak 2 Juni 2026. Pada perdagangan Rabu (19/8/2026), harga emas melonjak lebih dari 4%.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 naik 0,6% menjadi US$4.569,80 per ons troi.
Imbal hasil Treasury AS turun
Penguatan harga emas terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang mengalami penurunan. Kondisi tersebut dipicu meningkatnya permintaan setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan ukuran operasi pembelian kembali (buyback) untuk surat utang dan obligasi dengan tenor lebih panjang. Penurunan imbal hasil obligasi AS menjadi katalis positif bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung lebih menarik ketika tingkat imbal hasil aset berbunga seperti obligasi pemerintah menurun.
Baca Juga: Tesla Bersiap Luncurkan Cybercab, Robotaxi Tanpa Setir di Austin Di sisi lain, dolar AS masih bergerak lemah. Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Utang AS tembus US$40 triliun
Pergerakan emas juga dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS. Departemen Keuangan AS menyatakan total utang pemerintah AS telah menembus US$40 triliun untuk pertama kalinya. Kondisi tersebut kembali memunculkan peringatan mengenai potensi krisis fiskal. Beban belanja untuk program jaring pengaman sosial dan pembayaran bunga utang terus meningkat, sementara penerimaan pemerintah tertekan oleh kebijakan pemotongan pajak. Kekhawatiran terhadap inflasi AS juga meningkat setelah pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada bulan lalu. Dalam risalah pertemuan tersebut, disebutkan bahwa “beberapa” pejabat The Fed siap menaikkan suku bunga, sementara “banyak” pejabat menilai kenaikan biaya pinjaman diperlukan apabila inflasi tidak turun menuju target bank sentral AS sebesar 2%.
Peluang kenaikan suku bunga The Fed
Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan moneter The Fed pada September 2026. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan terdapat probabilitas 67,3% The Fed mempertahankan suku bunga pada September. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan mencapai 32,7%.
Baca Juga: Chery Siapkan IPO Divisi Robot, Bidik Pasar Luar Negeri untuk Robot Polisi Suku bunga menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan harga emas. Ketika suku bunga tinggi, emas cenderung kurang menarik karena tidak menghasilkan pendapatan bunga. Sebaliknya, penurunan imbal hasil dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dapat meningkatkan daya tarik emas. Selain faktor moneter, emas juga tetap dipandang sebagai aset safe haven ketika terjadi ketidakpastian ekonomi maupun geopolitik.
Harga perak dan logam mulia lainnya
Pergerakan positif juga terjadi pada sebagian logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 0,2% menjadi US$67,06 per ons troi. Sementara itu, harga platinum turun 0,4% menjadi US$1.816,78 per ons troi. Adapun harga palladium naik 0,3% menjadi US$1.339,05 per ons troi. Dengan kombinasi pelemahan dolar AS, turunnya imbal hasil Treasury, meningkatnya kekhawatiran fiskal AS, serta ketidakpastian arah suku bunga The Fed, pasar emas masih mendapatkan sejumlah katalis yang menopang harganya di level tinggi.