Harga Emas Dunia Cenderung Stabil Senin (7/9), Tak Berubah di Level US$4.424



​KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada awal perdagangan Senin (7/9/2026).

Investor cenderung menahan diri sembari menunggu serangkaian data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pekan ini.

Baca Juga: Serangan AS-Iran Bikin Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Anjlok


Mengutip Reuters, harga emas spot nyaris tidak berubah di level US$4.424,40 per ons troi pada pukul 00.25 GMT.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,1% menjadi US$4.471,60 per ons troi.

Perhatian pasar tertuju pada data inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) AS yang akan dirilis pekan ini.

Data tersebut dinilai penting untuk memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Sebelumnya, data yang dirilis Jumat menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS meningkat tajam pada Agustus, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Kondisi tersebut mengindikasikan perbaikan pasar tenaga kerja setelah sebelumnya mengalami pelemahan.

Baca Juga: Pemilihan Presiden FIFA 2027: Gianni Infantino Kembali Mencalonkan Diri

Data ketenagakerjaan itu turut menjaga peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15-16 September. Setelah rilis data tersebut, harga emas sempat tertekan.

Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai 58%.

Kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas. Pasalnya, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga daya tariknya cenderung berkurang ketika tingkat suku bunga meningkat.

Trump Tekan The Fed

Selain data ekonomi, pasar juga mencermati tekanan politik terhadap bank sentral AS.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat mengatakan bahwa dirinya akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mengalami defisit perdagangan dengan AS jika The Fed tidak memangkas suku bunga.

Di sisi lain, Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengatakan, lemahnya produktivitas serta berbagai guncangan, termasuk pandemi Covid-19, menjadi faktor di balik peningkatan utang publik di negara-negara maju.

Baca Juga: Tekanan Ekonomi AS Makin Ketat, Pengaruh Iran di Selat Hormuz Melemah

Kenaikan utang tersebut pada akhirnya turut mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.

Sementara itu, penjualan produk emas Perth Mint pada Agustus mencapai level terendah dalam tiga bulan.

Penjualan produk perak juga turun lebih dari 31% dibandingkan bulan sebelumnya, menurut laporan pemurni logam mulia tersebut.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot stagnan di US$66,21 per ons troi. Platinum turun 0,7% menjadi US$1.807,38 per ons troi, sedangkan palladium melemah 0,4% menjadi US$1.393 per ons troi.