KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan awal Senin (2/11/2026), tetapi masih bertahan di dekat level terendah dalam satu tahun terakhir. Ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) akibat tekanan inflasi yang persisten membatasi daya tarik logam mulia. Mengutip
Reuters, harga emas spot naik 0,5% menjadi US$ 3.894,89 per ons troi pada pukul 00.42 GMT. Meski menguat, harga emas masih berada di dekat level terendah sejak Oktober 2025 yang tersentuh pada sesi perdagangan sebelumnya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terkoreksi 1% Senin (2/11), Berharap Perang Iran Segera Berakhir Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 naik 0,1% menjadi US$ 3.903,90 per ons troi. Pada Jumat lalu, harga emas sempat merosot ke level terendah sejak Oktober 2025 dan menembus ke bawah level psikologis US$ 4.000 per ons troi. Analis Commerzbank menyebutkan, tekanan terhadap harga emas dipicu aksi jual paksa aset lindung nilai, termasuk emas, di tengah kejatuhan tajam saham-saham teknologi. Kondisi tersebut juga memicu kebutuhan investor untuk memenuhi
margin call. Dari sisi kebijakan moneter, tiga pejabat The Fed pada Jumat menyampaikan pandangan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan untuk mengendalikan inflasi yang masih tinggi. Pernyataan tersebut menjadi sinyal penting setelah bank sentral AS mempertahankan suku bunga dalam pertemuan kebijakan moneter pekan lalu.
Baca Juga: Dolar AS Bergerak Stabil Jelang Pemilu AS, Bitcoin Masih Dibayangi Peretasan Binance Data terbaru juga menunjukkan inflasi AS meningkat pada September 2026. Kenaikan harga bensin dan sejumlah barang lainnya mendorong tekanan inflasi, sekaligus memperkuat ekspektasi ekonom bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperhitungkan peluang sekitar 75% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember. Ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif bagi emas. Pasalnya, kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang (
opportunity cost) dalam memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga mengurangi daya tariknya bagi investor. Di sisi lain, perkembangan geopolitik masih menjadi perhatian pasar. Negosiator Iran berada di Doha pada Minggu untuk melanjutkan hari ketiga perundingan dengan mediator Qatar. Pembicaraan tersebut bertujuan mendorong kesepakatan untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran.
Sementara itu, prospek inflasi di kawasan Eropa juga mengalami perubahan. Survei terhadap para ekonom yang dilakukan Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan inflasi zona euro diperkirakan jauh lebih tinggi pada tahun ini dan tahun depan dibandingkan proyeksi sebelumnya. Inflasi bahkan diperkirakan baru kembali ke target 2% ECB pada 2028.
Baca Juga: Pencurian Kripto Binance: Fakta di Balik Serangan Hacker Korea Utara, TraderTraitor Dari pasar fisik, permintaan emas di sejumlah pasar utama Asia masih lesu sepanjang pekan lalu. Konsumen di India menunda pembelian karena memperkirakan harga emas masih berpotensi turun. Sementara itu, permintaan di China sebagai negara konsumen emas terbesar dunia juga belum menunjukkan penguatan. Adapun harga logam mulia lainnya bergerak menguat. Harga perak spot naik 1,2% menjadi US$ 49,6935 per ons troi. Platinum menguat 0,8% menjadi US$ 1.446,05 per ons troi, sedangkan paladium naik 1,1% menjadi US$ 986,76 per ons troi.