KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia kembali mencetak rekor dan kian mendekati level US$5.600 per ons troi pada Kamis (29/1/2026), seiring meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu, harga perak juga melesat dan semakin dekat menembus US$120 per ons. Melansir
Reuters, harga emas spot naik 2,1% menjadi US$5.511,79 per ons troi pada pukul 00.39 GMT, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi di US$5.591,61 per ons troi.
Baca Juga: Powell Bungkam soal Nasibnya, Ingatkan Penerus The Fed Jauhi Politik Analis OCBC menyebut lonjakan beban utang pemerintah, risiko geopolitik, serta ketidakpastian kebijakan telah mempercepat perubahan struktural dalam cara investor memandang emas. “Emas tidak lagi hanya diposisikan sebagai aset lindung nilai saat krisis atau inflasi, tetapi semakin dilihat sebagai penyimpan nilai yang netral dan andal, sekaligus memberikan diversifikasi lintas berbagai rezim ekonomi,” tulis OCBC dalam catatannya. Harga emas menembus level US$5.000 per ons untuk pertama kalinya pada awal pekan ini dan telah menguat lebih dari 10% sepanjang pekan berjalan. Kenaikan tersebut didorong oleh kombinasi permintaan aset safe haven, pembelian bank sentral yang solid, serta pelemahan dolar AS. Meski reli emas terkesan tajam, analis memperingatkan potensi koreksi jangka pendek. Namun, fundamental jangka menengah hingga panjang masih dinilai mendukung.
Baca Juga: Kantor Pemilu Georgia Digeledah FBI, Sengketa Pilpres 2020 AS Memanas Lagi “Meski sifat reli yang parabolik mengindikasikan koreksi bisa terjadi, fundamental yang kuat diperkirakan tetap menopang harga hingga 2026, sehingga setiap pelemahan berpotensi menjadi peluang beli,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore. Dari sisi geopolitik, ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Iran untuk kembali berunding terkait program nuklirnya, sembari memperingatkan bahwa serangan AS di masa depan akan jauh lebih keras. Iran merespons dengan ancaman balasan terhadap AS, Israel, dan pihak-pihak yang mendukungnya. Di sisi kebijakan moneter, Federal Reserve AS pada Rabu (28/1) memutuskan untuk menahan suku bunga, sesuai ekspektasi pasar. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan inflasi pada Desember masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%.
Baca Juga: Ancaman Demokrasi AS: Gelombang Protes Terbesar Sepanjang Sejarah Menanti Harga emas telah melonjak lebih dari 27% sepanjang tahun ini, setelah mencatat kenaikan tajam 64% pada 2025. Kenaikan harga juga mendapat dukungan dari rencana perusahaan kripto Tether yang akan mengalokasikan 10%–15% portofolio investasinya ke emas fisik. Sementara itu, lonjakan harga emas mendorong lonjakan minat beli di Asia. Konsumen di Shanghai dan Hong Kong dilaporkan memadati toko-toko emas, dengan sebagian berspekulasi harga masih akan terus naik. Harga perak spot naik 1,3% ke level US$118,06 per ons troi, setelah sebelumnya mencetak rekor di US$119,34 per ons troi. Sepanjang tahun ini, harga perak telah melonjak lebih dari 60%, didorong oleh permintaan investor yang mencari alternatif emas, keterbatasan pasokan, dan aksi beli spekulatif.
Baca Juga: Mengejutkan! Amazon PHK 16.000 Karyawan Lagi, Total 30.000 Sejak Oktober Analis Standard Chartered memperkirakan pasar perak kembali mencatat defisit tahun ini, terutama akibat terbatasnya stok perak yang tersedia di atas permukaan. Sementara itu, platinum spot naik 0,5% ke US$2.710,20 per ons troi, setelah sempat mencetak rekor di US$2.918,80 pada awal pekan. Sebaliknya, palladium turun 1,3% ke US$2.048,14 per ons troi.