Harga Emas Dunia Masih Tertekan, Simak Proyeksinya untuk Pekan Ini



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek harga emas dunia masih dibayangi volatilitas tinggi hingga akhir pekan ini. Ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), serta dinamika perang dagang menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan logam mulia.

Melansir Trading Economics pada Senin (29/6/2026) pukul 11.50 WIB harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 4.055,31 per ons troi atau melemah 3,23% sepekan dan 9,56% sebulan terakhir.

Sementara Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.645.000. Harga emas Antam itu turun Rp 15.000 jika dibanding dengan harga pada Minggu (27/6/2026) yang berada di level Rp 2.660.000 per gram.


Baca Juga: Mitra Adiperkasa (MAPI) Bagi Dividen Rp 166 Miliar, Intip Jadwal Lengkapnya

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas dunia akan bergerak dalam rentang US$ 3.786 hingga US$ 4.344 per ons troi sepanjang sepekan ini.

Sementara itu, harga emas batangan Antam diperkirakan berada di kisaran Rp 2.530.000 hingga Rp 2.750.000 per gram hingga akhir pekan.

Ibrahim mengatakan, sentimen utama yang mempengaruhi harga emas saat ini berasal dari perkembangan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina. 

Meski ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung, dibukanya kembali Selat Hormuz membuat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi mulai mereda.

Menurutnya, normalisasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz turut menekan kenaikan harga minyak. Di saat yang sama, peningkatan produksi minyak dari sejumlah negara juga memunculkan risiko kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global.

Baca Juga: IHSG Melemah 0,97% ke 5.838 di Sesi I Senin (29/6), ESSA, PGAS, AMRT Top Losers LQ45

Selain itu, perkembangan politik di Amerika Serikat juga menjadi perhatian investor. Ibrahim menilai pasar mencermati langkah-langkah pemerintahan Presiden Donald Trump serta prospek kebijakan ekonomi menjelang agenda politik di Negeri Paman Sam.

Dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim melihat peluang bank sentral AS atau Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga mulai berkurang. 

"Kalau melihat Selat Hormuz sudah dibuka kemudian transportasi minyak kembali normal kemudian inflasi turun akibat harga-harga bahan pokok atau gasolin di Amerika ini juga akan turun, ini mengindikasikan bahwa Bank Sentral Amerika bukan lagi akan meningkatkan suku bunga tetapi akan mempertahankan suku bunganya," ujar Ibrahim, Minggu (28/6/2026).

Di sisi lain, potensi meningkatnya tensi perang dagang pada semester II 2026 juga dinilai dapat meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

Menurut Ibrahim, kebijakan tarif impor AS terhadap sejumlah negara mitra dagang berpotensi kembali menjadi katalis pergerakan indeks dolar AS, harga minyak, maupun harga emas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News