KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia kembali menunjukkan tren penguatan di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan ekonomi global. Kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Paruh Waktu (midterm elections) Amerika Serikat (AS), meredanya tekanan inflasi, serta penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi sejumlah faktor yang mendorong kenaikan harga logam mulia tersebut. Melansir Trading Economics pada Minggu (8/11/2026), harga emas di pasar spot tercatat sebesar US$ 4.070,41 per ons troi. Meski mengalami koreksi tipis 0,42% secara harian akibat dinamika dolar AS, harga emas masih membukukan kenaikan sebesar 5,02% dalam sepekan.
Penguatan tersebut turut didukung oleh pelemahan indeks dolar AS sekitar 0,3% dan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Kondisi ini membuat emas semakin menarik bagi investor sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa kemenangan Partai Demokrat yang menguasai kedua kamar Kongres berpotensi memicu kebuntuan politik (political gridlock) terhadap sejumlah agenda dan kebijakan fiskal pemerintahan Presiden Donald Trump.
Baca Juga: Harga Emas Antam Minggu (8/11/2026) Stagnan, Cek Daftar Lengkapnya Perubahan peta politik AS tersebut dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian kebijakan dan mendorong investor mengalihkan sebagian asetnya ke instrumen safe haven, termasuk emas. "Kondisi ini mendorong pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (safe haven)," ujar Geraldo kepada KONTAN, Sabtu (7/11/2026).
Prospek Harga Emas Dunia hingga Akhir 2026
Melihat pergerakan ke depan, Geraldo menilai prospek harga emas hingga akhir 2026 masih berpeluang positif. Kendati demikian, investor perlu mencermati potensi koreksi teknikal setelah harga mengalami kenaikan cukup signifikan. Menurutnya, penguatan emas masih berpotensi ditopang oleh ketidakpastian ekonomi global, perkembangan geopolitik, tingginya permintaan bank sentral, serta ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed). Di sisi lain, kenaikan harga yang terlalu cepat dalam waktu singkat berpotensi mendorong investor melakukan aksi ambil untung (profit taking). "Apabila dolar AS kembali menguat, imbal hasil obligasi AS meningkat, atau The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih ketat, harga emas berpotensi mengalami tekanan koreksi. Oleh karena itu, tren jangka menengah emas masih berpeluang menguat, tetapi pergerakannya akan lebih volatil dan tidak berlangsung secara linear," jelasnya. Geraldo memproyeksikan harga emas global berpeluang bergerak dalam rentang US$ 4.200 hingga US$ 4.300 per ons troi sampai akhir 2026. Proyeksi tersebut dengan asumsi ketidakpastian ekonomi global masih berlangsung dan dolar AS tidak mengalami penguatan signifikan.
Harga Emas Antam Berpotensi Tembus Rp 2,95 Juta per Gram
Kenaikan harga emas dunia juga berpotensi memberikan sentimen positif terhadap harga emas di pasar domestik, terutama emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Meski demikian, pergerakan harga emas Antam tidak sepenuhnya mengikuti kenaikan harga emas internasional. Terdapat sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi pembentukan harga emas di dalam negeri.
Baca Juga: Obligasi ESG 2027 Masih Dibayangi Tantangan, Ini Penyebabnya "Penguatan emas global berpengaruh positif pada harga emas Antam. Namun, kenaikannya tidak selalu proporsional secara instan karena ada pengaruh nilai tukar rupiah, waktu penyesuaian harga produsen, serta biaya premium dan distribusi," terang Geraldo. Menurut Geraldo, nilai tukar rupiah menjadi salah satu variabel utama yang menentukan pergerakan harga emas domestik. Pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan harga emas Antam meskipun harga emas internasional relatif stabil. Sebaliknya, penguatan rupiah berpotensi meredam kenaikan harga emas dalam negeri.
Selain faktor nilai tukar, harga emas domestik juga dipengaruhi oleh kondisi permintaan dan penawaran emas fisik di pasar lokal, kebijakan penetapan harga produsen, serta selisih harga jual dan pembelian kembali (buyback). Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Geraldo memperkirakan harga emas Antam berpeluang bergerak pada kisaran Rp 2.650.000 hingga Rp 2.950.000 per gram sampai akhir 2026. Proyeksi tersebut menggunakan asumsi nilai tukar rupiah berada di rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.200 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News