KONTAN.CO.ID - Harga emas menguat pada perdagangan Jumat (3/7/2026) dan berada di jalur mencatat kenaikan mingguan pertama dalam lima pekan. Penguatan ini didorong melemahnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Baca Juga: Swiss Melaju ke 16 Besar Piala Dunia, Riyad Mahrez Akhiri Karier di Timnas Aljazair Mengutip
Reuters, harga emas spot naik 1,5% menjadi US$ 4.184,75 per ons troi pada pukul 08.35 GMT. Sebelumnya, harga sempat menyentuh level tertinggi sejak 23 Juni. Sepanjang pekan ini, emas telah menguat sekitar 2,4%, sekaligus mengakhiri tren penurunan selama empat pekan berturut-turut. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus naik 1,73% menjadi US$ 4.197,20 per ons troi. Chief Market Analyst Bybit Han Tan mengatakan kenaikan harga emas dipicu oleh perlambatan tajam pertumbuhan lapangan kerja di AS pada Juni, yang mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. "Reaksi harga emas saat ini cukup beralasan karena pasar mulai mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September," ujar Han Tan.
Baca Juga: Pemukim Israel Rebut Rumah Warga Palestina di Tepi Barat, Ketegangan Meningkat Lagi Data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis (2/7) menunjukkan
non-farm payrolls (NFP) hanya bertambah 57.000 pekerjaan pada Juni, jauh di bawah proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan 110.000 pekerjaan. Setelah data tersebut dirilis, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi sekitar 54%, dari sebelumnya 66%, berdasarkan CME FedWatch Tool. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan emas karena menurunkan biaya peluang (
opportunity cost) memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, dolar AS juga berada di jalur pelemahan mingguan terbesar sejak April. Pelemahan greenback membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain sehingga turut meningkatkan permintaan.
Baca Juga: Aktivitas Sektor Jasa Italia Kembali Tumbuh pada Juni, Tekanan Biaya Mulai Mereda Dukungan terhadap harga emas juga datang dari pembelian bank sentral. Data World Gold Council (WGC) menunjukkan bank-bank sentral secara bersih menambah 41 metrik ton cadangan emas sepanjang Mei. Han Tan menilai bank sentral masih akan menjadi salah satu penopang utama permintaan emas dalam jangka panjang, meskipun beberapa negara sempat menjual sebagian cadangannya untuk menopang nilai tukar mata uang domestik. Sementara itu, permintaan emas fisik di India dilaporkan melemah seiring kenaikan harga, sedangkan minat beli di China mulai menunjukkan perbaikan. Adapun logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak spot naik 2,8% menjadi US$ 62,70 per ons, platinum menguat 2,9% ke US$ 1.662,66 per ons, dan paladium bertambah 1,2% menjadi US$ 1.280,75 per ons. Ketiga logam tersebut juga berada di jalur mencatat kenaikan mingguan.