KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia bergerak menguat pada perdagangan Selasa (3/11/2026) pagi di tengah penurunan harga minyak mentah yang meredakan kekhawatiran inflasi. Investor juga mencermati hasil pemilihan paruh waktu atau
midterm elections Amerika Serikat (AS) yang berlangsung pada hari ini. Mengutip
Reuters, harga emas di pasar spot naik 0,3% menjadi US$ 3.960,80 per ons pada pukul 00.32 GMT. Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan setelah harga emas berhasil bangkit dari level terendah dalam satu tahun yang tercatat pada Jumat (30/10/2026).
Baca Juga: Oracle Cari Pendanaan US$ 20 Miliar untuk Ekspansi Infrastruktur AI Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember bergerak stabil di level US$ 3.970,80 per ons. Penguatan harga emas terjadi setelah harga minyak dunia merosot lebih dari 7% pada perdagangan Senin (2/11/2026). Penurunan harga minyak dipicu perkembangan komunikasi antara Iran dan AS terkait upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung selama delapan bulan. Teheran menyatakan komunikasi dengan Washington masih berlanjut setelah pembicaraan Iran dengan mediator Qatar berakhir tanpa terobosan. Meski belum menghasilkan kesepakatan, kedua pihak disebut masih melakukan pembahasan dengan sejumlah usulan yang telah diperbarui. Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena inflasi yang tinggi dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya.
Baca Juga: Kimi Antonelli Juara Dunia F1 2026, Berapa Bonus yang Akan Diterimanya? Investor Cermati Arah Kebijakan The Fed Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga mencermati hasil pemilu paruh waktu AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan fiskal dan sentimen investor ke depan. Di sisi lain, aktivitas manufaktur AS menunjukkan peningkatan pada Oktober 2026, didukung kuatnya permintaan domestik. Namun, kondisi tersebut juga membuat tekanan inflasi di tingkat produsen masih bertahan. Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 73% bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang, berdasarkan perangkat CME FedWatch.
Baca Juga: Manchester United vs AS Roma: Rekor Kandang Setan Merah Jadi Ancaman Ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi penguatan emas. Sebab, suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang atau opportunity cost dalam memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Dari Eropa, Bank of England diperkirakan menaikkan suku bunga pada Kamis mendatang untuk meredam tekanan inflasi akibat tingginya biaya energi. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan bank sentral Inggris akan menaikkan suku bunga acuan dari 3,75% menjadi 4%. Sementara itu, Bank of Japan menyatakan Jepang secara bertahap mencatat kemajuan dalam menjaga inflasi di sekitar target 2%. Perkembangan tersebut memperkuat peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Presiden Bank Sentral Slovakia Peter Kazimir juga menyatakan Bank Sentral Eropa (ECB) perlu kembali menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi tinggi bertahan lebih lama.
Baca Juga: Glazers Dikabarkan Kecewa dengan Jim Ratcliffe, Bisa Paksa Jual Saham Man United Menurutnya, pasar mungkin masih meremehkan besarnya pengetatan kebijakan yang diperlukan untuk mengendalikan tekanan harga. Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,3% menjadi US$ 50,79 per ons. Harga platinum menguat 0,2% menjadi US$ 1.451,48 per ons, sedangkan paladium naik 0,2% ke level US$ 970,50 per ons.