KONTAN.CO.ID - Harga emas menguat lebih dari 1% pada perdagangan Senin (27/7/2026), didorong meredanya konflik di Timur Tengah yang memicu penurunan tajam harga minyak. Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi dan risiko suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Baca Juga: Bursa China Waspadai IPO Raksasa CXMT US$ 8,6 Miliar di Tengah Tekanan Pasar Melansir
Reuters hingga pukul 00.58 GMT, harga emas spot naik 1,3% menjadi US$ 4.103,99 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka (futures) emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,9% ke level US$ 4.106,10 per ons troi. Sentimen positif bagi logam mulia muncul setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Minggu (26/7) bahwa Teheran akan menghentikan serangan militernya selama Amerika Serikat melakukan hal yang sama. Di sisi lain, Amerika Serikat menghentikan sementara kampanye pengeboman terhadap Iran setelah para penasihat Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa sasaran militer mulai menipis dan muncul kekhawatiran terhadap berkurangnya persediaan amunisi AS. Harapan akan solusi diplomatik mendorong harga minyak mentah jatuh sekitar 5%.
Baca Juga: Begini Cara Bank Sentral Singapura Mengendalikan Inflasi Tanpa Mengubah Suku Bunga Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya meningkat akibat lonjakan harga energi. Kekhawatiran tersebut sempat memicu spekulasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (
non-yielding asset) biasanya berkurang ketika suku bunga berada di level tinggi karena investor cenderung beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih besar. Selain itu, pelemahan dolar Amerika Serikat dan turunnya imbal hasil (
yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turut memberikan dukungan bagi kenaikan harga emas. Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) pekan ini. Bank sentral AS secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Meski demikian, berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar masih memperkirakan peluang sekitar 80% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Baca Juga: Bank Sentral Singapura Kejutkan Pasar dengan Pengetatan Kebijakan demi Redam Inflasi Data terbaru dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) juga menunjukkan para spekulan di pasar COMEX meningkatkan posisi beli bersih (net long) emas sebanyak 4.438 kontrak menjadi 123.586 kontrak pada pekan yang berakhir 21 Juli. Sementara itu, logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan. Harga perak spot melonjak 2,7% menjadi US$ 59,74 per ons troi, platinum naik 2% ke US$ 1.619,75 per ons troi, dan paladium menguat 2,3% menjadi US$ 1.271,93 per ons troi.