KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia melonjak tajam dan mencetak rekor baru pada perdagangan Rabu (waktu setempat), menembus level di atas US$4.800 per ons. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah aksi jual besar-besaran aset Amerika Serikat akibat memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan NATO terkait Greenland. Harga emas spot tercatat naik 2,6% ke level US$4.885,11 per ons pada pukul 06.33 GMT, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi intraday di US$4.887,82 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari juga menguat 2,6% ke posisi US$4.888,20 per ons.
Analis pasar senior Capital.com, Kyle Rodda, menilai lonjakan harga emas mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap Amerika Serikat. Hal tersebut dipicu oleh langkah Presiden AS Donald Trump yang kembali menggulirkan kebijakan tarif terhadap negara-negara Eropa serta meningkatkan tekanan untuk menguasai Greenland.
Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Baru, Tembus ke Atas US$ 4.800 untuk Pertama Kalinya! “Ini adalah hilangnya kepercayaan terhadap AS yang disebabkan oleh langkah Trump selama akhir pekan, termasuk rencana tarif terhadap Eropa dan peningkatan tekanan untuk mengambil alih Greenland. Pergerakan harga emas mencerminkan kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik global,” ujar Rodda. Pada Selasa, Trump menyatakan tidak akan mundur dari ambisinya untuk mengendalikan Greenland. Ia bahkan menolak untuk mengesampingkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap pulau Arktik tersebut, sekaligus melontarkan kritik keras kepada sekutu-sekutu NATO. Meski demikian, Trump kemudian menyatakan optimistis bahwa kesepakatan dapat dicapai. “Kami akan menemukan solusi di mana NATO akan sangat senang dan kami juga akan sangat senang,” kata Trump. Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa Eropa tidak akan tunduk pada tekanan atau intimidasi. Dalam pernyataannya di Davos, Macron melontarkan kritik tajam terhadap ancaman Trump terkait penerapan tarif tinggi terhadap negara-negara Eropa. Kepala pasar institusional global ABC Refinery, Nicholas Frappell, menyebut tembusnya harga emas di atas US$4.800 semakin menguatkan keyakinan pasar bahwa investor enggan melepas emas sebelum mencapai level psikologis US$5.000 per ons.
Baca Juga: Makin Berkilau, Harga Emas Spot Ditutup ke Rekor Tertinggi di US$ 4.763,4 “Kenaikan ini merupakan kombinasi dari faktor pendukung tradisional emas, seperti meningkatnya utang global, melemahnya dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik,” ujar Frappell. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) bergerak di dekat level terendah dalam satu bulan terakhir, menyusul aksi jual luas terhadap aset AS, mulai dari mata uang, saham Wall Street, hingga obligasi pemerintah AS. Melemahnya dolar membuat harga logam mulia yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar negeri.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,5% ke US$95,03 per ons, setelah mencetak rekor tertinggi US$95,87 pada Selasa. Harga platinum spot juga melemah 0,5% ke level US$2.473,80 per ons, setelah sempat menyentuh rekor US$2.511,80 sebelumnya. Sementara itu, harga paladium tercatat naik tipis 0,1% menjadi US$1.881,57 per ons.