Harga Emas Dunia Stabil, Menanti Data Inflasi AS dan Keputusan The Fed



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia bergerak stabil pada perdagangan Rabu (14/10/2026), seiring investor menantikan rilis data indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS) untuk mengukur arah kebijakan moneter terbaru Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Reuters, harga emas spot bertahan di level US$ 4.159,45 per ons pada pukul 02.51 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik tipis 0,1% menjadi US$ 4.182,60 per ons.

Kepala Makro Global Tastylive, Ilya Spivak, mengatakan pergerakan harga emas saat ini masih berada dalam rentang terbatas. Namun, kemampuan emas mempertahankan level tersebut ketika harga minyak menguat menunjukkan bahwa logam mulia ini berpotensi mencari momentum untuk kembali naik.


"Apa yang kita lihat saat ini bukanlah pergerakan besar, melainkan harga yang masih bergerak dalam suatu rentang. Namun, fakta bahwa emas mampu bertahan dalam rentang tersebut ketika harga minyak menguat menunjukkan bahwa emas sedang berusaha menemukan alasan untuk kembali naik," ujar Spivak.

Baca Juga: Nikkei Jepang Rebound 0,61% Rabu (14/10), Saham Chip Kembali Menguat

Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan Geopolitik

Dari sisi geopolitik, sebuah gedung administrasi milik perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, di Kota Dhahran, wilayah timur negara tersebut, dilaporkan menjadi sasaran serangan. Kementerian Energi Arab Saudi menyampaikan informasi tersebut ketika pertempuran antara kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dan Arab Saudi semakin intensif.

Kabar tersebut turut mendorong harga minyak dunia menguat pada perdagangan Rabu. Perkembangan ini menjadi salah satu faktor yang dicermati investor dalam menilai prospek pasar komoditas, termasuk emas.

Menurut Spivak, data inflasi konsumen, inflasi produsen, dan penjualan ritel AS yang menunjukkan pelemahan momentum ekonomi dapat mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed pada tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi harga emas.

"Jika data indeks harga konsumen, indeks harga produsen, dan penjualan ritel yang akan dirilis menunjukkan momentum ekonomi yang lebih lemah, pasar mungkin akan mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut pada tahun ini. Hal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi harga emas," tambahnya.

Investor Menanti Data Inflasi AS

Laporan indeks harga konsumen AS dijadwalkan terbit pada pukul 12.30 GMT atau 19.30 WIB pada Rabu (14/10/2026). Selanjutnya, data indeks harga produsen (PPI) dan penjualan ritel AS akan dirilis pada Kamis (15/10/2026).

Rangkaian data ekonomi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, kembali menegaskan pandangannya bahwa bank sentral AS mungkin perlu menaikkan suku bunga satu kali lagi pada tahun ini untuk menekan inflasi.

Sementara itu, Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi AS belakangan ini lebih mencerminkan penguatan pertumbuhan ekonomi daripada meningkatnya ekspektasi inflasi. Menurutnya, ekspektasi inflasi masih terkendali dengan baik.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga AS sebesar 23% pada Oktober dan 88% pada Desember.

Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Melemah Rabu (14/10), Bagaimana Nasib Rupiah?

Prospek Harga Emas di Tengah Kebijakan Suku Bunga

Emas secara tradisional dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik emas bagi investor karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.

Ketika suku bunga meningkat, aset berbunga seperti obligasi dapat menjadi lebih menarik dibandingkan emas. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS melemah dan mendorong pasar memperkirakan kebijakan moneter yang lebih longgar, harga emas berpotensi memperoleh dukungan.

Dengan demikian, arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh hasil data inflasi AS serta perkembangan ekspektasi suku bunga The Fed.

Harga Perak, Platinum, dan Paladium

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,6% menjadi US$ 59,11 per ons. Harga platinum relatif stabil di level US$ 1.664,19 per ons, sedangkan paladium naik 0,4% menjadi US$ 1.130,81 per ons.

Pergerakan harga berbagai logam mulia tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencermati kombinasi faktor ekonomi, kebijakan moneter, dan ketegangan geopolitik dalam menentukan strategi investasi.