Harga Emas Dunia Tembus Level Tertinggi dalam Dua Pekan, Cermati Pemicunya



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas dunia kembali menguat dan menembus level tertinggi dalam lebih dari dua pekan pada Kamis (5/11/2026).

Penguatan ini ditopang pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), di tengah meredanya kekhawatiran inflasi akibat penurunan harga minyak.

Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot naik 1% menjadi US$ 4.100,27 per ons troi pada pukul 14.05 waktu AS.


Dalam perdagangan tersebut, harga emas sempat menyentuh US$ 4.146,63 per ons troi, level tertinggi sejak 20 Oktober 2026.

Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Level Tinggi, Pasar Menanti Data Inflasi AS

Kenaikan ini melanjutkan lonjakan harga emas sehari sebelumnya yang mencapai 3,4%. Penguatan pada Rabu (4/11) tersebut menjadi kenaikan harian terbesar sejak 19 Agustus 2026.

Secara mingguan, harga emas telah meningkat lebih dari US$ 250 setelah sempat menyentuh level terendah dalam setahun di US$ 3.869,85 per ons troi pada Jumat (30/10/2026).

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 ditutup naik 1% menjadi US$ 4.113,50 per ons troi.

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu penopang utama harga emas. Dolar bergerak di level terendah sejak 30 September sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar lebih murah bagi investor pemegang mata uang lain.

Selain itu, imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun turun ke level terendah dalam hampir dua bulan. Kondisi ini meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan, penurunan harga energi turut meredakan kekhawatiran inflasi dan mengurangi potensi kebutuhan kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 3%, Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Inflasi

"Penurunan harga energi memunculkan ekspektasi bahwa kekhawatiran inflasi akan mereda," ujarnya.

Harga minyak mentah Brent masih berada di bawah US$ 100 per barel setelah anjlok hampir 9% pada perdagangan sebelumnya.

Penurunan tersebut dipicu harapan bahwa penguatan Partai Demokrat dalam pemilu AS dapat mengurangi risiko eskalasi perang Iran.

Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember masih membayangi pergerakan emas. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 66%.

Kenaikan suku bunga berpotensi menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti bunga.

Karena itu, pelaku pasar kini menantikan data tenaga kerja nonpertanian AS atau non-farm payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis pada Jumat (6/11/2026). Data tersebut akan menjadi petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Dekati Level Terendah Tiga Bulan Senin (26/10) Jelang Rapat The Fed

Pedagang logam independen Tai Wong menilai, harga emas berpotensi kembali tertekan apabila data tenaga kerja AS lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember.

Di sisi lain, bank sentral Polandia telah mencapai target cadangan emas sebesar 700 ton metrik. Meski demikian, bank sentral tersebut masih membuka peluang untuk menambah kepemilikan emasnya.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak di pasar spot stagnan di US$ 52,23 per ons troi. Platinum naik 1,6% menjadi US$ 1.520,75 per ons troi, sedangkan paladium menguat 3,8% menjadi US$ 1.042,24 per ons troi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News