KONTAN.CO.ID - Harga emas bergerak melemah pada awal perdagangan Senin (1/6/2026) seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak dunia. Pelaku pasar kini menanti keputusan Presiden AS Donald Trump terkait usulan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.
Baca Juga: Goldman Sachs: Rebalancing Indeks China Berpotensi Picu Arus Dana Pasif US$ 48 Miliar Berdasarkan data perdagangan yang dilansir
Reuters, harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 4.527,36 per ons troi pada pukul 01.56 GMT. Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan pada sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS terkoreksi 0,8% ke level US$ 4.558,10 per ons troi. Tekanan terhadap emas datang dari penguatan dolar AS yang membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Selain itu, kenaikan harga minyak turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global.
Baca Juga: Ekspor Korea Selatan Melonjak ke Level Tertinggi dalam 40 Tahun Berkat Ledakan AI Pada Jumat (30/5), Presiden Donald Trump menyatakan akan segera memutuskan proposal perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran. Namun, kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan mengenai sejumlah isu utama yang menjadi akar konflik. Ketidakpastian geopolitik juga meningkat setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan pasukan Israel untuk memperluas operasi militer di Lebanon dalam konflik melawan kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Langkah tersebut dilakukan meskipun gencatan senjata telah diumumkan lebih dari enam pekan lalu. Di sisi lain, harga minyak melonjak lebih dari 2% pada perdagangan awal pekan. Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama.
Baca Juga: Aktivitas Manufaktur China Masih Ekspansif pada Mei, Namun Laju Pertumbuhan Melambat Wakil Ketua Federal Reserve untuk Pengawasan Michelle Bowman mengatakan, dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian masih terus dievaluasi. Namun, ia mengingatkan bahwa lonjakan inflasi yang berkepanjangan akibat perang dapat mendorong bank sentral mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat. Pandangan serupa disampaikan Presiden Federal Reserve Bank Philadelphia, Anna Paulson. Menurutnya, kebijakan moneter yang saat ini berada pada level "cukup ketat" masih sesuai untuk menghadapi prospek ekonomi yang penuh ketidakpastian dan tekanan inflasi yang tetap tinggi.
Di pasar fisik, permintaan emas di India masih cenderung lesu akibat tingginya harga dan bea masuk impor. Sementara di China, premi emas menyempit karena investor bersikap lebih berhati-hati.
Baca Juga: Lowongan Kerja Australia Naik 1,8% pada Mei, Permintaan Tenaga Kerja Masih Tangguh Data terbaru juga menunjukkan spekulan emas meningkatkan posisi beli bersih (
net long position) sebanyak 2.544 kontrak menjadi 96.931 kontrak pada pekan yang berakhir 26 Mei. Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,4% menjadi US$ 75,54 per ons troi. Harga platinum menguat 1% ke level US$ 1.935,65 per ons troi, sedangkan paladium naik 1,3% menjadi US$ 1.371,24 per ons troi.