KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia (XAU/USD) diproyeksikan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (27/8/2026). Mengutip
Bloomberg pada Kamis (27/8/2026) pukul 14.15 WIB, harga emas naik 0,14% di level US$ 4.597,42 per ons troi. Meski tren jangka panjang masih berada dalam koridor
bullish, laju penguatan logam mulia tertahan oleh area
resistance kuat serta bayang-bayang ketidakpastian kebijakan moneter Federal Reserve.
Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis, Pasar Menanti Sinyal Suku Bunga The Fed Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan bahwa pergerakan harga emas pada grafik
timeframe H1 menunjukkan tanda-tanda koreksi setelah gagal menembus area supply penting di kisaran US$ 4.649 hingga US$ 4.672 per ons troi. "Zona US$ 4.649–US$ 4.672 menjadi area
supply yang cukup kuat bagi pergerakan harga emas. Harga sejauh ini belum berhasil mencatatkan penutupan di atas zona tersebut, sehingga momentum kenaikan belum mendapatkan konfirmasi yang cukup kuat untuk melanjutkan tren
bullish," ujar Geraldo dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026). Selama emas belum mampu bertahan di atas zona tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut dan mengarahkan harga menuju area support terdekat di kisaran US$ 4.583 per ons troi. Penembusan atau pertahanan pada level support ini akan menjadi penentu utama apakah koreksi bersifat sementara atau berkembang menjadi pelemahan yang lebih dalam. Dari sisi fundamental, pasar emas saat ini berada dalam posisi tarik-menarik antara katalis positif dan negatif. Di satu sisi, penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan melemahnya indeks dolar AS sebelumnya sempat memberi angin segar bagi emas. Penurunan yield mengurangi
opportunity cost dalam memegang aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) seperti emas. Namun, di sisi lain, rilis data ekonomi AS terbaru kembali menahan laju emas. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang mencatatkan angka di atas ekspektasi menandakan tekanan inflasi di AS masih cukup persisten.
Baca Juga: Saham Citra Borneo (CBUT) Naik 24,68%, Laba Bersih Melesat 302% di Semester I 2026 Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama. Geraldo menambahkan bahwa fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada Simposium Jackson Hole untuk membaca arah kebijakan moneter AS ke depan.
"Jika komentar dari pejabat The Fed cenderung
hawkish, dolar AS dan imbal hasil obligasi berpotensi kembali menguat, yang pada gilirannya akan menekan harga emas menuju
support 4.583. Sebaliknya, sinyal dovish akan memberi ruang bagi emas untuk kembali menguji area
resistance," jelas Geraldo. Dengan volatilitas yang diperkirakan tetap tinggi, para pelaku pasar diimbau untuk mencermati pergerakan di area key level US$ 4.649–US$ 4.672. Penutupan harga secara valid di atas level tersebut dapat mengonfirmasi keberlanjutan tren
bullish, sedangkan kegagalan berulang akan memperkuat skenario koreksi teknikal. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News