Harga Emas Global Berpotensi Bangkit, Sinyal Bullish Mulai Terlihat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas global berpeluang mengalami rebound dalam jangka pendek di tengah kondisi tarik-menarik sentimen antara tekanan dari ekspektasi suku bunga The Fed dan dukungan dari risiko geopolitik.

Melansir Trading Economics pada Senin (14/9) pukul 15.50 WIB, harga emas bertengger di kisaran US$ 4.310 per ons troi atau melemah 0,9% secara harian dan 2% sepekan terakhir. 

Analos Dupoin Futures Geraldo Kofit mencermati, harga emas pada time frame H4 tertahan di kisaran US$ 4.302 hingga US$ 4.325. Area tersebut kemudian membentuk swing low baru yang membuka peluang bagi emas untuk bergerak menuju resistance terdekat di level US$ 4.388 hingga US$ 4.421 per ons troi dalam jangka waktu dekat.


Baca Juga: Prabowo Lantik Suahasil Nazara Jadi Menteri Keuangan, IHSG Berbalik Arah

"Bertahannya harga di area 4.302–4.325 menunjukkan adanya perlawanan terhadap tekanan jual yang sebelumnya menekan pergerakan emas. Terbentuknya swing low baru juga menjadi indikasi bahwa buyer mulai kembali mengambil posisi di sekitar area support," ujar Geraldo dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).

Pada grafik H4, pergerakan XAUUSD juga membentuk pola Falling Wedge Pattern. Formasi tersebut ditandai dengan pergerakan harga yang cenderung menurun dalam struktur yang semakin menyempit. 

Dalam analisis teknikal, pola Falling Wedge dapat memberikan peluang pembalikan arah ketika harga berhasil menembus batas atas pola dengan momentum yang cukup kuat.

Dari sisi fundamental, Geraldo bilang, harga emas masih menghadapi tekanan setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi memperkuat ekspektasi pasar terhadap suku bunga Federal Reserve. 

Inflasi yang masih tinggi dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi tersebut berpotensi mendukung dolar AS dan meningkatkan Treasury yield.

Kenaikan yield menjadi salah satu tantangan bagi harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Ketika yield Treasury meningkat, opportunity cost untuk memegang emas ikut bertambah sehingga daya tarik emas dapat berkurang. 

Dolar AS juga memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan emas. Penguatan USD biasanya memberikan tekanan terhadap harga emas karena membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Sebaliknya, pelemahan dolar dapat memberikan ruang bagi XAUUSD untuk bergerak lebih tinggi.

Di tengah tekanan tersebut, risiko geopolitik masih menjadi faktor yang dapat memberikan dukungan terhadap emas. Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. 

Investor biasanya meningkatkan perhatian terhadap emas ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, sehingga sentimen tersebut dapat membantu membatasi tekanan penurunan.

Kenaikan harga minyak hingga di atas US$100 per barel juga memberikan pengaruh ganda terhadap pasar emas. Di satu sisi, harga minyak yang tinggi mencerminkan meningkatnya risiko geopolitik dan dapat memperkuat permintaan safe haven. 

Namun di sisi lain, lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sehingga memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan bertahan tinggi lebih lama.

"Situasi tersebut membuat harga emas berada di tengah tarik-menarik antara faktor teknikal dan fundamental," pungkas Geraldo.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.669 Per Dolar AS Hari Ini (14/9), Seluruh Asia Turun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News