KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia atau XAUUSD berpeluang melanjutkan penguatan setelah berhasil menembus level resistance terdekat. Meski demikian, harga emas berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu untuk menguji area support sebelum melanjutkan tren
bullish. Melansir Trading Economics pada Kamis (5/11) pukul 13.30 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 4.121 per ons troi, atau menguat 1,52% secara harian dan 2,56% sepekan terakhir. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, secara teknikal, keberhasilan harga emas menembus resistance US$ 4.075 pada grafik empat jam (H4) menunjukkan peningkatan momentum beli. Kondisi tersebut membuka peluang bagi emas spot untuk melanjutkan penguatan.
Namun, investor perlu mencermati potensi koreksi jangka pendek atau
pullback setelah
breakout tersebut. Geraldo melihat harga emas berpeluang menguji area support terdekat di sekitar US$ 4.020 per ons troi. “Apabila mampu bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan harga emas masih terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support dapat mengubah prospek pergerakan harga dalam jangka pendek,” ungkap Geraldo dalam risetnya, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga: Emas dan Kripto Menguat, Minyak Tertekan Usai Demokrat Kuasai Kongres AS Dari sisi indikator teknikal, Stochastic masih menunjukkan pergerakan positif menuju area jenuh beli (overbought). Selain itu, kemunculan sinyal bullish divergence turut mengindikasikan adanya potensi penguatan harga emas. Dari sisi fundamental, harga emas turut memperoleh dukungan dari pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Mengacu pada rangkuman MarketScreener, pelemahan kedua instrumen tersebut terjadi setelah hasil pemilu paruh waktu AS. Kondisi ini turut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian politik dan geopolitik. Pelemahan dolar AS umumnya menjadi katalis positif bagi harga emas karena membuat logam mulia yang diperdagangkan dalam denominasi dolar lebih terjangkau bagi investor pemegang mata uang lainnya. Sementara itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkatkan daya tarik emas. Pasalnya, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga maupun kupon. Meski demikian, prospek harga emas masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed. Pasar masih mencermati peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember sehingga perkembangan data ekonomi AS berpotensi memengaruhi pergerakan dolar dan imbal hasil Treasury. Salah satu data yang menjadi perhatian investor adalah laporan ketenagakerjaan AS, khususnya non-farm payrolls (NFP).
Baca Juga: Harga Minyak WTI Dibayangi Tekanan, Ini Proyeksi Pergerakannya Apabila data NFP menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat menekan dolar AS dan imbal hasil Treasury sehingga memberikan ruang penguatan bagi harga emas. Sebaliknya, data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat The Fed. Hal ini dapat menopang dolar AS dan kembali menekan pergerakan XAUUSD. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News