KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas tengah mengalami koreksi setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada tahun ini. Melansir Trading Economic pada Senin (22/6/2026) pukul 17.00 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 4.202,99 per troi ons atau melemah 8,00% dalam sebulan terakhir dan turun 2,98% YtD. Sementara itu, harga emas batangan Antam tetap pada harga Rp 2.668.000 per gram, turun dibandingkan harga satu bulan lalu yang berada di Rp 2.773.000 per gram. Pelemahan harga emas dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menyebut dari sisi global, kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan Federal Reserve (The Fed) di level 3,50% hingga 3,75% masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan emas.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Masih Layak Dibeli? Ini Prospek Emas hingga Akhir 2026 Menurut Nanang, sikap The Fed yang masih menerapkan kebijakan higher for longer membuat dolar Amerika Serikat (AS) tetap kuat sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi. “Selain itu, ekspektasi inflasi global yang mulai melandai juga mendorong investor melakukan aksi ambil untung atau profit taking,” ujar Nanang kepada Kontan, Senin (22/6/2026). Sementara dari dalam negeri, penurunan harga emas Antam mengikuti koreksi harga emas global. Namun, penurunannya cenderung tertahan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dari sisi instrumen, Nanang melihat emas fisik seperti Antam masih cocok bagi investor konservatif yang berorientasi pada perlindungan nilai kekayaan (wealth preservation) dalam jangka panjang, yakni lebih dari tiga hingga lima tahun. Namun, ia mengingatkan bahwa emas fisik kurang ideal untuk kebutuhan investasi jangka pendek karena memiliki spread atau selisih harga jual dan beli yang cukup lebar. “Namun, (investasi di emas fisik) kurang cocok untuk jangka pendek karena spread atau selisih harga cukup lebar, yakni saat ini di kisaran Rp 267.000 per gram,” lanjutnya.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Tetap Stagnan di Level Rp 2.668.000 Per Gram, Senin (22/6) Sebaliknya, emas digital maupun emas spot dinilai lebih prospektif untuk investor yang memiliki horizon investasi jangka pendek hingga menengah. Instrumen tersebut menawarkan likuiditas yang lebih tinggi, biaya transaksi yang lebih rendah, serta spread yang relatif tipis dibandingkan emas fisik. Terkait strategi investasi, Nanang menyarankan investor yang belum memiliki emas untuk memanfaatkan koreksi harga saat ini dengan melakukan pembelian secara bertahap menggunakan metode dollar cost averaging (DCA). Bagi investor yang sudah memiliki emas dalam portofolionya, Nanang merekomendasikan untuk hold. Investor juga dapat menambah porsi investasi secara bertahap (buy on weakness) saat harga mengalami pelemahan guna menurunkan rata-rata harga beli (average down).
Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah dan dinamika politik Amerika Serikat. Selain itu, arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia juga akan menjadi faktor penting yang menentukan tren harga emas. Jika pelonggaran kembali berlanjut, tren penguatan harga emas berpotensi berlanjut hingga tahun 2026. Untuk proyeksi, ia memperkirakan harga emas spot dunia masih berada dalam tren bullish dan berpeluang menguji level US$ 4.500 hingga US$ 4.700 per ons troi pada akhir 2026. Sementara itu, harga emas Antam diproyeksikan dapat kembali menguat ke kisaran Rp 2,85 juta hingga Rp 3 juta per gram.
Baca Juga: Harga Emas Turun Senin (22/6) Pagi, Dipicu Ketegangan AS-Iran & Nada Hawhish The Fed Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News