KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas masih menghadapi tekanan setelah mengalami penurunan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Mengutip Bloomberg, harga emas di pasar spot bertengger di kisaran US$ 4.141,19 per ons troi atau melemah 0,87% pada Jumat (2/10/2026). Dalam sepekan, harga emas spot anjlok 3,35%. Sejalan, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup melemah 0,95% ke level US$ 4.162,3 per ons troi. Alhasil, harga emas berjangka anjlok 3,68% di sepanjang pekan ini.
Memasuki pekan depan, arah harga emas di pasar spot akan banyak dipengaruhi oleh pergerakan dolar Amerika Serikat (AS), imbal hasil atau yield Treasury, serta rilis data tenaga kerja AS.
Baca Juga: PMI Manufaktur Ekspansi, Simak Prospek Saham AUTO dan ASII Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, harga emas pada timeframe H4 masih berada dalam tren
bearish yang cukup kuat. Dalam skenario tersebut, harga emas berpotensi kembali melemah menuju area support US$ 4.110 per troy ons. Namun, sebelum melanjutkan tren penurunan, emas berpeluang mengalami koreksi terlebih dahulu. Geraldo mengatakan, area Fibonacci 61,8% atau sekitar US$ 4.236 menjadi level penting yang perlu diperhatikan karena berada di zona Golden Ratio retracement. "Apabila harga kembali bergerak menuju level tersebut dan mengalami
rejection, tekanan
bearish berpotensi kembali menguat," kata Geraldo dalam risetnya, Sabtu (3/10/2026). Menurut dia, level US$ 4.236 menjadi area penting untuk melihat apakah koreksi harga emas hanya bersifat sementara atau justru berkembang menjadi pembalikan tren. Selama harga belum mampu menembus area tersebut secara meyakinkan, struktur
bearish pada timeframe H4 masih menjadi perhatian. Dari sisi fundamental, katalis utama harga emas pada pekan depan berasal dari data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan tersebut akan menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed), sekaligus arah dolar AS dan yield Treasury. Jika NFP menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja yang lebih besar dari perkiraan, terutama apabila disertai kenaikan tingkat pengangguran atau pertumbuhan upah yang lebih rendah, dolar AS dan yield Treasury berpotensi tertekan. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi harga emas untuk mengalami pemulihan.
Baca Juga: Merdeka Copper (MDKA) Tawarkan Obligasi Rp4,12 Triliun, Kupon hingga 10% Sebaliknya, data tenaga kerja AS yang lebih kuat berpotensi meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed masih memiliki alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Skenario ini dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas. Harga emas berada di jalur penurunan lebih dari 3% sepanjang pekan. Penguatan dolar AS dan kenaikan yield Treasury menjadi faktor yang membebani harga emas menjelang rilis data
payrolls. Tekanan terhadap emas juga terlihat setelah yield Treasury AS bertenor 10 tahun sempat mencapai 5,344% pada Kamis (1/10/2026), level tertinggi sejak 2002. Yield kemudian turun ke sekitar 5,25%, sementara indeks dolar AS berada di sekitar level 102 dan mencapai posisi tertinggi dalam 17 bulan. Meski demikian, fundamental emas belum sepenuhnya menunjukkan kondisi bearish. Emas masih mampu bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi meskipun yield obligasi AS meningkat tajam. Permintaan dari bank sentral dan kebutuhan diversifikasi cadangan menjadi salah satu faktor struktural yang masih menopang harga emas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News