Harga Emas Masih Berpotensi Naik Meski Yield Treasury Tembus 5%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas spot masih berada dalam tekanan seiring kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun yang menembus 5%.

Meski dalam jangka pendek emas menghadapi tekanan, prospeknya hingga akhir 2026 dinilai masih terbuka untuk kembali menguat.

Berdasarkan data Trading Economics, Selasa (15/9/2026) pukul 20.14 WIB, harga emas spot berada di US$ 4.286 per ons troi, turun 0,29% secara harian. Dalam sepekan, harga emas terkoreksi 1,49%, sedangkan dalam sebulan melemah 2,83%.


Baca Juga: Harga Emas Tertekan Dolar AS dan Yield, Ini Level Penting yang Perlu Dicermati

Di pasar domestik, harga emas Antam masih bertahan di level tinggi. Mengutip laman Logam Mulia, harga emas Antam 1 gram berada di Rp 2.592.000 atau Rp 2.598.480 setelah memperhitungkan PPh 0,25%.

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kenaikan yield US Treasury membuat instrumen obligasi kembali lebih menarik bagi investor.

"Kita lihat bahwa Treasury 10 tahun sudah tembus di 5%, ini pun juga kemungkinan besar orang akan lari ke obligasi," kata Ibrahim kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).

Kenaikan yield US Treasury juga meningkatkan biaya peluang memegang emas. Sebagai aset yang tidak memberikan bunga, emas menjadi relatif kurang menarik ketika imbal hasil obligasi meningkat.

Kondisi ini berpotensi mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen pendapatan tetap.

Baca Juga: Harga Emas Tertekan Yield AS Tembus 5%, Ini Proyeksi hingga Akhir 2026

Namun, tekanan dari kenaikan yield dinilai belum cukup untuk mengubah prospek emas dalam jangka menengah hingga akhir tahun.

Ibrahim melihat ketidakpastian global, terutama konflik di Timur Tengah dan gangguan pasokan minyak, masih dapat menopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

Pergerakan harga minyak juga menjadi faktor penting karena kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Jika tekanan inflasi meningkat dan The Fed kembali menaikkan suku bunga, emas berpotensi menghadapi tekanan lebih besar. Sebaliknya, jika The Fed memilih mempertahankan suku bunga, ruang penguatan harga emas masih terbuka.

Ibrahim menilai level suku bunga saat ini sudah cukup tinggi sehingga masih terdapat alasan bagi The Fed untuk mempertahankannya. Di sisi lain, ketegangan geopolitik dapat menjaga permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

"Saya masih optimis sampai akhir tahun ini harga emas dunia itu masih akan naik," ujar Ibrahim.

Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Prospek Pergerakan Masih Bearish

Ibrahim memperkirakan harga emas dunia berpeluang kembali menuju US$ 5.000 per ons troi hingga akhir 2026. Jika penguatan harga emas global tersebut berlangsung bersamaan dengan pelemahan rupiah, harga emas Antam juga berpotensi ikut terdorong.

"Kalau seandainya rupiah terus melemah, kemudian harga emas dunia bergerak sampai level US$ 5.000, sangat wajar angka Rp 3 juta itu akan tercapai kembali," katanya.

Dengan demikian, kenaikan yield US Treasury menjadi risiko utama bagi emas dalam jangka pendek.

Namun, arah harga hingga akhir tahun masih akan ditentukan oleh kombinasi perkembangan inflasi AS, kebijakan The Fed, harga minyak, nilai tukar rupiah, serta ketegangan geopolitik global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News