KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga emas di pasar spot diperkirakan masih berada dalam tekanan seiring dominasi sentimen
bearish yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Berdasarkan analisis terbaru dari Dupoin Futures, arah pergerakan emas masih cenderung melemah karena belum mampu menembus level
resistance penting, sementara faktor fundamental global juga masih memberikan tekanan terhadap logam mulia tersebut. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan bahwa secara teknikal, emas pada time frame Daily masih memperlihatkan struktur tren turun yang cukup kuat.
Kegagalan harga menembus
area resistance di level US$ 4.089 per ons troi menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (28/7): Turun Rp 9.000 Jadi Rp 2.613.000 Per Gram “Area tersebut kini membentuk
swing high baru yang memperkuat peluang berlanjutnya tren
bearish dalam jangka pendek hingga menengah,” ujar Geraldi dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026). Sebaliknya, skenario yang lebih berpotensi terjadi adalah kelanjutan pelemahan menuju
area support kuat di level US$ 3.978 per ons troi. Level tersebut dipandang sebagai area penting yang akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa sesi perdagangan mendatang. Dari sisi fundamental, Dupoin Futures melihat bahwa tekanan terhadap harga emas masih berasal dari penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury Yield. “Kombinasi kedua faktor tersebut membuat daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi berkurang. Dalam kondisi seperti ini, sebagian investor lebih memilih mengalihkan dana ke instrumen berbasis dolar yang menawarkan tingkat pengembalian lebih menarik,” lanjutnya. Selain itu, perhatian pasar juga masih tertuju pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, hingga pernyataan para pejabat Federal Reserve diperkirakan menjadi katalis utama yang akan menentukan arah pergerakan pasar keuangan global, termasuk emas. Faktor geopolitik juga masih menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan. Meningkatnya ketegangan di berbagai kawasan dunia sewaktu-waktu dapat mendorong permintaan terhadap aset
safe haven, termasuk emas.
Baca Juga: Harga Emas Antam Diproyeksi di Kisaran Rp 2,44 Juta – Rp 2,74 Juta di Pekan Depan Katanya, apabila risiko global kembali meningkat, tekanan jual terhadap emas berpotensi berkurang meskipun secara teknikal tren bearish masih mendominasi. “Meski terdapat potensi
technical rebound ketika indikator memasuki
area oversold, Dupoin Futures menegaskan bahwa pelaku pasar sebaiknya tetap menunggu konfirmasi teknikal yang lebih kuat sebelum mengubah pandangan menjadi
bullish,” pungkas Geraldo. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News