Harga Emas Melejit, Pasar Global Gonjang-Ganjing Usai Trump Serang The Fed



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga emas melonjak ke rekor tertinggi, sementara dolar AS dan kontrak berjangka Wall Street melemah pada Senin (12/1/2026), menyusul penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell yang memicu kekhawatiran atas independensi bank sentral paling berpengaruh di dunia.

Powell mengecam langkah tersebut sebagai bagian dari dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memperbesar kendali atas The Fed.

Bagi para pelaku pasar, perkembangan ini menambah gejolak di awal tahun 2026 yang sudah diwarnai peristiwa besar, mulai dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS hingga ambisi Washington terhadap Greenland.


Kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun lebih dari 0,6% menjelang pembukaan pasar AS.

Indeks volatilitas VIX yang dikenal sebagai “indeks ketakutan” mencatat kenaikan terbesar sejak November. Pada saat yang sama, emas yang merupakan aset lindung nilai yang diburu investor saat gejolak dan inflasi menembus level US$ 4.600 per ons.

Baca Juga: Warga Miskin Malaysia Resmi Boleh Mendulang Emas di Sungai

Pasar obligasi turut memperhitungkan peluang yang sedikit lebih besar untuk pemangkasan suku bunga AS dalam jangka pendek.

Di Eropa, indeks saham STOXX 600 bertahan dekat rekor tertinggi, didorong oleh saham-saham sektor pertahanan yang mencetak puncak baru. Di pasar valuta asing, franc Swiss—aset safe haven klasik—menguat bersama euro dan pound sterling.

“Perkembangan terbaru ini menandai eskalasi signifikan dalam pertarungan antara Presiden Trump dan Ketua The Fed Powell,” kata Lee Hardman dari MUFG. Ia menambahkan bahwa “serangan berulang terhadap independensi The Fed” terus menimbulkan risiko pelemahan bagi dolar AS.

Kontrak berjangka suku bunga Fed funds menambah sekitar tiga basis poin ekspektasi pemangkasan tahun ini—angka yang relatif kecil, namun menunjukkan risiko The Fed terdorong untuk bersikap lebih agresif.

Lonjakan emas lebih dari 1,5% diikuti kenaikan perak sekitar 5%, yang juga terdorong meningkatnya ketegangan geopolitik terkait Iran. Namun, harga minyak justru melemah tipis karena pelaku pasar komoditas belum menunjukkan kepanikan, terutama dengan prospek tambahan pasokan minyak mentah dari Venezuela.

Trump pada Minggu (11/1/2026) mengatakan tengah mempertimbangkan berbagai respons keras, termasuk opsi militer, menyusul tindakan keras terhadap demonstrasi di Iran—yang disebut sebagai salah satu tantangan terbesar terhadap kekuasaan ulama sejak Revolusi Islam 1979.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, melalui terjemahan bahasa Inggris pada Senin, menyatakan situasi berada “sepenuhnya terkendali”.

Harga minyak Brent turun sekitar 50 sen menjadi sedikit di bawah US$ 63 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di US$ 58,60 per barel, turun 45 sen.

Kedua acuan tersebut sebelumnya naik lebih dari 3% pekan lalu—kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober—seiring meningkatnya tindakan represif aparat Iran terhadap para demonstran.

Baca Juga: Emas Pecah Rekor di Atas US$4.600 Senin (12/1), Perak ikuti Jejak ke Level Tertinggi 

Meski premi risiko telah terbentuk pada harga minyak dalam beberapa hari terakhir, pasar masih meremehkan risikonya karena konflik yang meluas dapat mengganggu Selat Hormuz, kata Saul Kavonic, Kepala Riset Energi di MST Marquee. “Pasar seolah berkata, ‘Tunjukkan dulu gangguan pasokannya’, sebelum bereaksi secara material,” ujarnya.

Trump vs Powell

Pelemahan kontrak berjangka Wall Street dipimpin oleh saham-saham perbankan. Selain kembali menempatkan The Fed dalam sorotan, Trump pada Jumat malam menyerukan pembatasan suku bunga kartu kredit sebesar 10% selama satu tahun mulai 20 Januari.

Saham Citigroup, JPMorgan Chase, dan Bank of America turun antara 2,5% hingga 4% dalam perdagangan prapasar. American Express anjlok hampir 5%, sementara perusahaan pembiayaan konsumen seperti Synchrony Financial dan Capital One merosot lebih dari 10%.

Pekan penuh kedua tahun ini akan diwarnai rilis data inflasi AS, angka perdagangan China, serta deretan laporan kinerja perusahaan AS yang dimulai dengan JPMorgan dan BNY pada Selasa. Namun, bagi para trader, fokus tersebut masih bisa menunggu.

Ketua The Fed Jerome Powell merespons ancaman dakwaan kriminal dari pemerintahan Trump dengan menyebutnya sebagai “dalih” untuk menekan bank sentral agar memangkas suku bunga.

“Tindakan yang belum pernah terjadi ini harus dilihat dalam konteks ancaman dan tekanan berkelanjutan dari pemerintah,” kata Powell dalam pernyataannya. Masa jabatannya sebagai ketua dijadwalkan berakhir pada Mei.

Para ekonom menilai perkembangan ini sebagai eskalasi dramatis dalam konflik antara Powell dan Trump, yang telah berlangsung sejak awal masa kepemimpinan Powell pada 2018.

“Trump sedang menarik benang-benang rapuh independensi bank sentral,” kata Andrew Lilley, Kepala Strategi Suku Bunga di Barrenjoey, bank investasi berbasis di Sydney.

Baca Juga: Permintaan Emas Fisik di India Terbatas, China Malah Memborong 

“Investor tidak akan senang, tetapi ini menunjukkan Trump tidak memiliki banyak tuas lain. Suku bunga acuan akan tetap ditentukan oleh mayoritas anggota FOMC.” tambahnya.

Dolar AS menunjukkan reaksi paling tajam, melemah bahkan terhadap mata uang yang biasanya sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia dan Selandia Baru. Indeks dolar turun 0,4% di Eropa dan berada di jalur penurunan harian terbesar sejak pertengahan Desember.

Sepanjang 2025, dolar mencatat kinerja buruk dengan penurunan lebih dari 9% terhadap mata uang utama, dipicu menyempitnya selisih suku bunga akibat pemangkasan The Fed, serta meningkatnya kekhawatiran atas defisit fiskal AS dan ketidakpastian politik.

“Perang terbuka antara The Fed dan pemerintahan AS ini jelas bukan citra yang baik bagi dolar AS,” kata Ray Attrill, Kepala Strategi Valuta Asing di National Australia Bank.

Selanjutnya: Kondisi Kurang Fit, PSSI Undur Sesi Perkenalan John Herdman Menjadi Selasa (13/1)

Menarik Dibaca: 5 Efek Negatif Makanan Tinggi Gula untuk Kulit, Bikin Cepat Tua dan Jerawatan!