KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga emas turun di awal pekan ini, karena lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi dan meredam ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve di tahun ini. Senin (30/3/2026) pukul 10.00 WIB, harga emas spot turun 0,6% ke US$ 4.466,99 per ons troi. Sejalan, harga emas kontrak berjangka untuk pengiriman April 2026 turun 0,6% menjadi US$ 4.496,3 ons troi. Harga emas telah ambles lebih dari 15% sepanjang bulan ini, menandai penurunan bulanan tercuram sejak Oktober 2008, seiring dengan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS).
Mata uang tersebut telah menguat lebih dari 2% sejak perang AS-Israel di Iran dimulai pada 28 Februari.
Baca Juga: Minyak Brent Menuju Lonjakan Bulanan Tertinggi Sejak Perang Iran, Konflik Meluas "Gambaran makro yang lebih besar di balik kinerja buruk (emas) tersebut adalah pergeseran besar dalam ekspektasi suku bunga... USD telah terpengaruh oleh hal itu, dan karena prospek emas juga bergantung pada suku bunga, sebagian besar dengan ekspektasi bahwa suku bunga kebijakan akan turun di bawah ketua Federal Reserve yang baru, hal itu telah merugikan emas," kata Nicholas Frappell, kepala global pasar institusional di ABC Refinery. Para pedagang kini melihat sedikit peluang penurunan suku bunga AS tahun ini, karena harga energi yang lebih tinggi mengancam akan memicu inflasi yang lebih luas dan membatasi ruang lingkup pelonggaran moneter. Hal ini kontras dengan ekspektasi dua kali penurunan suku bunga sebelum konflik dimulai. Meskipun inflasi biasanya meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai, suku bunga yang tinggi membebani permintaan logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil ini. Harga minyak mentah jenis Brent naik ke atas US$ 115 per barel setelah Houthi Yaman melancarkan serangan terhadap Israel pada akhir pekan, memperluas perang yang sedang berlangsung dan menambah masalah inflasi.
Harga minyak mentah Brent sudah naik 60% pada bulan Maret 2026, rekor kenaikan bulanan.
Baca Juga: Harga BBM Melonjak! Vietnam Rombak Kilang Terbesar Demi Produksi BBM Presiden AS Donald Trump mengatakan dia ingin "mengambil minyak di Iran" dan dapat merebut pusat ekspor Pulau Kharg, dalam sebuah wawancara dengan Financial Times yang diterbitkan pada hari Minggu. "Pergerakan harga emas pekan lalu menunjukkan reaksi terhadap perilaku
oversold, dan kemungkinan pembalikan penurunan baru-baru ini. Namun, ini perlu dikonfirmasi oleh pergerakan harga pekan ini. Mengingat derasnya arus berita utama, volatilitas adalah hal yang paling mudah diprediksi," kata Frappell.