Harga Emas Melemah, Bisnis Bullion BSI dan Pegadaian Tetap Moncer



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan harga emas belum menyurutkan minat masyarakat berinvestasi logam mulia.

Bank Bullion justru melihat koreksi harga emas menjadi momentum bagi masyarakat untuk menambah kepemilikan emas, sehingga bisnis bullion, cicil emas hingga gadai emas tetap mencatatkan pertumbuhan positif.

Dikutip dari website logammulia.com, harga emas per 28 Juni 2026 mencapai Rp 2.660.000 per gram. Jika dilihat dalam seminggu terakhir, harga emas tercatat susut 0,30% atau Rp 8.000. 


Corporate Secretary PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Wisnu Sunandar mengatakan, sepanjang awal 2026 minat masyarakat terhadap investasi emas masih tetap tinggi. Menurutnya, emas masih dipandang sebagai instrumen investasi syariah yang mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang.

Baca Juga: AAUI Dorong Asuransi Hadirkan Produk Kesehatan yang Lebih Terjangkau bagi Masyarakat

"Tren bisnis emas selama awal 2026 di BSI tetap menarik minat masyarakat untuk berinvestasi emas yang diyakini sebagai instrumen syariah yang tahan terhadap inflasi," ujar Wisnu kepada Kontan.co.id, Jumat (26/6).

Saat ini, BSI mengembangkan berbagai layanan bisnis emas, mulai dari layanan bullion bank melalui BSI Emas, cicil emas hingga gadai emas. Melalui aplikasi BYOND by BSI, masyarakat dapat membeli emas fisik secara digital, menabung emas mulai dari Rp 50.000, bertransaksi secara real time, hingga mencetak emas fisik mulai dari 2 gram.

Wisnu mengungkapkan, dalam kurun waktu sekitar satu tahun jumlah nasabah BSI Emas telah bertambah lebih dari 1 juta rekening. Menurutnya, kemudahan transaksi digital menjadi salah satu pendorong meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas.

Di sisi lain, bisnis cicil emas juga mencatatkan pertumbuhan sangat tinggi. Hingga April 2026, outstanding pembiayaan cicil emas mencapai Rp 16,93 triliun atau melonjak 97,9% secara tahunan (year on year/yoy).

"Peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya diversifikasi investasi serta melihat emas sebagai alternatif instrumen yang aman untuk mencapai tujuan keuangan jangka menengah maupun panjang," kata Wisnu.

Tak hanya itu, bisnis gadai emas BSI juga masih tumbuh pesat meski harga emas sedang terkoreksi. Hingga April 2026, outstanding gadai emas mencapai sekitar Rp 13 triliun atau meningkat sekitar 100% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Wisnu mengatakan, transaksi gadai emas di BSI rata-rata mencapai sekitar 120.000 transaksi setiap bulan. Tingginya aktivitas gadai emas salah satunya dipengaruhi meningkatnya kebutuhan dana masyarakat menjelang tahun ajaran baru sekolah.

Wisnu memproyeksikan, bisnis emas masih akan terus bertumbuh hingga akhir tahun. Menurut Wisnu, karakter emas sebagai instrumen investasi jangka menengah dan panjang akan tetap menjadi daya tarik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis PT Pegadaian Ferdian Timur Satyagraha. Ia mengatakan, koreksi harga emas justru menjadi peluang bagi masyarakat untuk mulai berinvestasi atau menambah kepemilikan emas pada harga yang lebih menarik.

"Pergerakan harga emas merupakan dinamika pasar yang wajar. Ketika harga mengalami koreksi, Pegadaian melihat kondisi tersebut sebagai peluang bagi masyarakat untuk mulai berinvestasi atau menambah kepemilikan emas pada harga yang lebih menarik. Oleh karena itu, minat terhadap layanan bullion tetap terjaga," ujarnya.

Menurut Ferdian, bisnis cicil emas maupun transaksi pembelian emas di Pegadaian hingga kini masih menunjukkan kinerja positif. Outstanding bisnis cicil emas telah mencapai lebih dari Rp 13 triliun dan masih tumbuh sesuai target perusahaan.

Di sisi lain, aktivitas gadai emas juga tetap ramai. Ia menjelaskan, karakteristik gadai emas berbeda dengan investasi karena lebih berfungsi sebagai solusi kebutuhan likuiditas jangka pendek.

"Emas memiliki keunggulan sebagai aset yang mudah dicairkan sehingga tetap menjadi pilihan masyarakat ketika membutuhkan dana cepat. Oleh karena itu, permintaan terhadap layanan gadai emas relatif tetap terjaga di berbagai kondisi pasar," katanya.

Ferdian optimistis tren bisnis bullion akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Menurutnya, meningkatnya literasi investasi emas, pengembangan ekosistem bullion nasional, serta inovasi produk akan semakin memperkuat pertumbuhan bisnis tersebut.

Ia menjelaskan, masyarakat yang ingin memiliki emas melalui Pegadaian dapat memilih dua skema, yakni Tabungan Emas maupun Cicil Emas.

Untuk Cicil Emas, masyarakat cukup menyiapkan kartu identitas (KTP), membayar uang muka minimal 15%, kemudian mengajukan pembiayaan melalui outlet Pegadaian atau aplikasi Pegadaian Digital. Setelah menentukan jumlah gram emas dan tenor cicilan, nasabah menandatangani akad dan mencicil setiap bulan hingga emas batangan diserahkan setelah pembiayaan lunas.

"Keuntungan cicil emas adalah harga emas telah dikunci sejak awal transaksi sehingga nasabah tidak perlu khawatir apabila harga emas naik selama masa cicilan," jelas Ferdian.

Sementara itu, kata Ferdian, bagi masyarakat yang ingin berinvestasi secara bertahap, Pegadaian menyediakan Tabungan Emas melalui aplikasi Tring!. Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat membeli emas mulai Rp 10.000. Dana yang disetorkan akan langsung dikonversi menjadi gram emas sehingga saldo tabungan tercatat dalam satuan gram, bukan rupiah.

Baca Juga: Budi Gadai Sebut Penurunan Harga Emas Dapat Pengaruhi Layanan Gadai Emas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News