Harga Emas Melemah Seiring Penguatan Dolar AS dan Ketegangan Geopolitik Mereda



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga emas tergelincir pada hari ini, terbebani oleh dolar Amerika Serikat (AS) yang kuat setelah data penjualan ritel AS yang lebih baik dari perkiraan mengaburkan harapan kenaikan suku bunga yang lebih kecil. Sementara, permintaan safe-haven dari kekhawatiran geopolitik terbaru juga memudar.

Kamis (17/11) pukul 10.15 WIB, harga emas spot turun 0,4% ke US$ 1.766,79 per ons troi. Harga emas berjangka turun 0,3% menjadi US$ 1.769,90 per ons troi.

"Emas telah berjalan sangat baik, tetapi setelah berjuang untuk mendorong di atas US$ 1.790, emas telah menyerah pada kekuatan dolar AS yang oversold dan tampaknya memasuki retracement," kata analis City Index Matt Simpson.


"Emas dapat mundur lebih jauh mengingat besarnya reli sebelumnya, yang kemungkinan akan menggoda aksi ambil untung dan menarik beberapa bear kontra tren di sekitar tertinggi ini."

Dolar AS naik 0,2% terhadap para pesaingnya, membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Lanjut Melemah, Brent dan WTI Turun 0,7% di Pagi Ini

Data menunjukkan penjualan ritel AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada Oktober, menunjukkan bahwa belanja konsumen dapat membantu menopang ekonomi pada kuartal keempat dan memperbarui ekspektasi bahwa Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga.

Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan kepada CNBC bahwa masuk akal bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga ke kisaran 4,75%-5,25% pada awal tahun depan, dan bahwa menghentikan kenaikan suku bunga bukanlah bagian dari diskusi.

Kenaikan suku bunga cenderung menumpulkan daya tarik emas karena logam tidak membayar bunga.

Harga emas mencapai puncak tiga bulan US$ 1.786,35 per ons pada hari Selasa, setelah berita bahwa rudal Rusia menewaskan dua orang di Polandia dekat perbatasan Ukraina.

Namun, presiden Polandia mengatakan pada hari Rabu bahwa rudal yang menghantam negaranya mungkin adalah proyektil pertahanan Ukraina yang tersesat, menghilangkan kekhawatiran bahwa itu berasal dari Rusia dan dapat memperluas krisis Ukraina.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari