Harga Emas Melesat: Potensi Tembus US$ 5.000 jika Perang Berakhir?



KONTAN.CO.ID - Harga emas menguat pada Kamis (7/5/2026) di tengah optimisme terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang membantu meredakan kekhawatiran mengenai inflasi serta suku bunga tinggi yang berkepanjangan. 

Namun, kenaikan harga dibatasi setelah muncul laporan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Data Reuters menunjukkan, harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.700,98 per ons pada pukul 13:53 EDT (17:53 GMT), setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam dua pekan pada sesi perdagangan tersebut.


Kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,4% di level US$ 4.710,90.

Bob Haberkorn, analis strategi pasar senior di RJO Futures, mengatakan bahwa jika gencatan senjata dapat bertahan dan perang benar-benar berakhir serta aktivitas perdagangan melalui Selat Hormuz kembali normal, harga emas berpotensi menembus US$ 5.000 per ons.

Menurutnya, pasar saat ini terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga yang akan diambil oleh Federal Reserve AS.

Amerika Serikat dan Iran disebut semakin dekat menuju kesepakatan sementara untuk menghentikan perang, menurut sejumlah sumber dan pejabat terkait. Teheran sedang meninjau proposal yang bertujuan menghentikan pertempuran, meskipun beberapa isu paling sensitif masih belum terselesaikan.

Baca Juga: Bergerak? Tengok Harga Emas Antam Terbaru Sore Ini Kamis (7/5/2026)

Harga minyak sempat berbalik arah dan kembali menguat. Seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Iran tidak akan mengizinkan AS membuka kembali Selat Hormuz dengan “rencana yang tidak realistis”, sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal mengutip media pemerintah Iran, Press TV.

Kenaikan biaya energi biasanya mendorong inflasi. Dalam kondisi seperti ini, bank sentral cenderung menahan penurunan suku bunga demi mengendalikan tekanan harga. Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia ini menjadi kurang menarik dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.

TD Securities dalam catatannya menyebut bahwa harga emas masih berpotensi naik di atas US$5.200 per ons apabila konflik mereda dan tekanan inflasi akibat harga minyak mulai menurun.

Lembaga tersebut menambahkan bahwa perubahan fokus Federal Reserve ke mandat ketenagakerjaan maksimum, penurunan imbal hasil obligasi, melemahnya dolar AS, serta meningkatnya permintaan investor dan bank sentral dapat kembali memicu tren bullish emas.

Pasar kini menantikan laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang akan dirilis Jumat untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed tahun ini.

Tonton: Pemerintah Siap Tutup Pabrik Rokok Ilegal Tak Ada Ampun Lagi

Sementara itu, data menunjukkan bahwa bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya pada April, menandai kenaikan selama 18 bulan berturut-turut.

Harga perak spot naik 2,6% menjadi US$79,32 setelah mencapai level tertinggi sejak 17 April.

Di sisi lain, platinum turun 1,2% menjadi US$2.036,28, sedangkan palladium melemah 2,5% menjadi US$1.498,86.

Tabel Ringkasan Pergerakan Logam Mulia

Komoditas Harga Terakhir Perubahan
Emas Spot US$4.700,98/ons +0,3%
Emas Berjangka AS US$4.710,90/ons +0,4%
Perak Spot US$79,32/ons +2,6%
Platinum US$2.036,28/ons -1,2%
Palladium US$1.498,86/ons -2,5%
Tabel Faktor Penggerak Harga Emas

Faktor Dampak terhadap Emas
Harapan damai AS-Iran Positif
Ketidakpastian Selat Hormuz Mendukung kenaikan emas
Kenaikan harga minyak Mendorong inflasi
Suku bunga tinggi AS Menekan daya tarik emas
Pembelian emas oleh China Mendukung tren bullish
Potensi pelemahan dolar AS Positif untuk emas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News