Harga Emas Melonjak 2% Kamis (3/9), Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda



KONTAN.CO.ID - Harga emas melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Kamis (3/9/2026), setelah investor memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada September.

Penguatan harga emas terjadi setelah Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan dirinya akan mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga apabila data ekonomi mendatang menunjukkan tekanan inflasi terus mereda.

Baca Juga: Harga Minyak Bervariasi Kamis (3/9), Pasar Cermati Eskalasi Konflik Timur Tengah


Melansir Reuters, harga emas spot naik 2,3% menjadi US$ 4.488,54 per ons troi pada pukul 14.04 waktu New York atau Jumat (4/9) pukul 01.04 WIB. Harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 28 Agustus pada sesi perdagangan tersebut.

Sementara itu, harga emas berjangka AS ditutup melonjak 2,8% ke level US$ 4.539,90 per ons troi.

Waller mengatakan apabila data ekonomi mendatang mengonfirmasi bahwa tekanan inflasi terus menurun, dirinya cenderung mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed berikutnya.

Komentar tersebut langsung mengubah ekspektasi pelaku pasar. Saat ini, trader memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15-16 September sekitar 54%, turun dari sekitar 62% sebelum pernyataan Waller.

"Saya pikir trader saat ini melihat The Fed akan bersikap kurang agresif terhadap suku bunga," kata Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di StoneX.

Menurut dia, semakin banyak trader yang memperkirakan The Fed hanya akan melakukan satu kali kenaikan suku bunga, sementara ruang untuk kenaikan berikutnya kemungkinan terbatas.

Baca Juga: Sektor Keuangan Global Catat Pertumbuhan Terkuat dalam Lebih dari Lima Tahun

Yield Treasury dan Dolar AS Tertekan

Penurunan imbal hasil (yield) US Treasury turut memberikan dukungan bagi harga emas.

Yield yang lebih rendah mengurangi opportunity cost atau biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Pelemahan dolar AS juga membuat emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar AS.

Pada perdagangan Rabu (2/9), harga emas sempat turun ke level terendah sejak 7 Agustus sebelum akhirnya ditutup naik lebih dari 1%.

Penguatan emas terjadi ketika indeks dolar AS mundur dari level tertinggi hampir tiga pekan, sementara yield Treasury turun dari level tertinggi dalam beberapa tahun.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Baca Juga: WNI Peserta Magang Di Jepang Meninggal, Terjepit Mesin Pabrik Di Hiroshima

Investor Tunggu Data Tenaga Kerja AS

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data ekonomi AS yang akan menjadi pertimbangan penting bagi kebijakan The Fed.

Laporan nonfarm payrolls atau data penyerapan tenaga kerja AS akan dirilis pada Jumat (4/9). Setelah itu, investor akan mencermati laporan inflasi Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) AS pada pekan depan.

Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Sementara itu, harga komoditas logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Global Capai Level Tertinggi dalam 27 Bulan

Harga perak spot naik 2,8% menjadi US$ 67,13 per ons troi. Platinum melonjak 4,2% ke US$ 1.830,28 per ons troi, sedangkan palladium melesat 5,9% menjadi US$ 1.426,75 per ons troi.

Di pasar energi, harga minyak juga berada dalam tren penguatan dan menuju kenaikan selama empat hari berturut-turut.

Penguatan tersebut didorong kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah setelah serangan AS terhadap Iran dan ancaman terbaru Israel terhadap Teheran.