Harga Emas Melonjak 2,6%, Tembus Level Tertinggi dalam 7 Pekan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas melonjak pada perdagangan Jumat (7/8/2026), mencapai level tertinggi dalam tujuh pekan setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) di luar sektor pertanian atau nonfarm payrolls (NFP) secara tak terduga menunjukkan penurunan pada Juli.

Kondisi tersebut meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan mendorong harga emas menuju kenaikan mingguan terbaik dalam tujuh bulan.

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 2,6% menjadi US$4.348,87 per troy ounce pada pukul 09.09 EDT atau 13.09 GMT (20:09 WIB). Harga emas bahkan sempat melonjak lebih dari 3% dan menyentuh level tertinggi sejak 17 Juni.


Dengan penguatan tersebut, harga emas berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak 19 Januari. Sepanjang pekan ini, harga emas telah menguat lebih dari 7%.

Sementara itu, harga emas berjangka AS naik 2,5% menjadi US$4.408 per troy ounce.

Data tenaga kerja AS tekan ekspektasi kenaikan suku bunga

Departemen Tenaga Kerja AS melalui Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) melaporkan jumlah nonfarm payrolls turun sebanyak 23.000 pekerjaan pada Juli.

Angka tersebut berbalik dari kenaikan 20.000 pekerjaan pada Juni yang sebelumnya telah direvisi turun. Hasil tersebut juga jauh di bawah ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan jumlah pekerjaan meningkat 80.000 pada Juli.

Baca Juga: Saham Global Cetak Kenaikan Mingguan Terkuat Sejak Mei 2026

Data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, mengatakan data ketenagakerjaan yang melemah mengurangi kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga dalam pertemuan berikutnya.

"Data lapangan kerja yang lebih lemah dari perkiraan menciptakan skenario di mana The Fed akan lebih kecil kemungkinannya untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya," ujar Meger.

Menurut dia, penurunan harga energi dan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed yang lebih rendah juga menjadi faktor yang dapat menekan dolar AS sekaligus menopang harga emas.

"Penurunan harga energi dan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed yang lebih kecil, semuanya mengarah pada dolar yang lebih lemah dan harga emas yang lebih kuat," tambah Meger.

Peluang kenaikan suku bunga The Fed menurun

Pasar berjangka suku bunga kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September hanya sebesar 43,9%, berdasarkan data LSEG.

Angka tersebut turun dari 57% sebelum data ketenagakerjaan AS dirilis.

Sebaliknya, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan depan meningkat menjadi 60,4%, dibandingkan 43,2% sebelum data tersebut diumumkan.

Ekspektasi terhadap suku bunga menjadi salah satu faktor penting bagi pergerakan harga emas. Pasalnya, emas tidak menghasilkan bunga sehingga penurunan suku bunga membuat aset logam mulia menjadi relatif lebih menarik dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil.

UBS proyeksikan harga emas US$5.000

Prospek harga emas juga masih mendapatkan dukungan dari sejumlah lembaga keuangan global.

Baca Juga: AS Kehilangan 23.000 Pekerjaan pada Juli, Tekanan terhadap The Fed Menguat

UBS memperkirakan harga emas dapat mencapai US$5.000 per troy ounce pada paruh pertama 2027. Proyeksi tersebut disampaikan UBS dalam catatan yang dirilis pada Jumat (7/8).

Selain faktor kebijakan moneter AS, perkembangan geopolitik juga masih menjadi perhatian pasar emas.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya meyakini perang dengan Iran akan segera berakhir.

Perkembangan geopolitik menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai ketika investor menghadapi ketidakpastian global.

Harga perak dan logam mulia lainnya ikut menguat

Kenaikan tidak hanya terjadi pada emas. Harga sejumlah logam mulia lainnya juga menguat pada perdagangan Jumat.

Harga perak spot naik 4,5% menjadi US$64,26 per ounce. Harga platinum menguat 1,4% menjadi US$1.753,09 per ounce, sedangkan palladium naik 0,4% menjadi US$1.375,75 per ounce.

Ketiga logam tersebut juga berada di jalur kenaikan secara mingguan.

Pergerakan harga emas selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter The Fed, data ekonomi AS, arah dolar AS, serta perkembangan geopolitik global.