KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia menguat pada perdagangan Kamis (4/6/2026), didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta penurunan harga minyak mentah. Pelaku pasar juga mencermati meningkatnya harapan terhadap penyelesaian konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot naik 0,7% menjadi US$ 4.461,09 per ons troi pada pukul 02.18 GMT (9:18 WIB). Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,5% ke level US$ 4.487,90 per ons troi. Pelemahan dolar AS membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih terjangkau bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini turut meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut di pasar global.
Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, menilai pergerakan harga emas saat ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak dan nilai tukar dolar AS. "Kenaikan harga emas masih sangat bergantung pada pergerakan minyak dan dolar AS. Emas cenderung bergerak lebih tinggi ketika keduanya melemah, sehingga keberlanjutan penguatannya sangat bergantung pada sentimen positif terkait hubungan AS dan Iran," ujar Waterer.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Diprediksi Pangkas Produktivitas Global, Kerugian Tembus US$ 17 M Sentimen pasar membaik setelah Israel dan Lebanon menyepakati pelaksanaan gencatan senjata guna mengakhiri permusuhan. Pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan tersebut pada Rabu (3/6/2026), yang memunculkan harapan akan tercapainya kesepakatan yang lebih luas untuk meredakan konflik dengan Iran. Di sisi lain, Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) AS yang dikuasai Partai Republik juga menyetujui resolusi yang bertujuan menghentikan keterlibatan Presiden Donald Trump dalam konflik melawan Iran. Langkah tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di kalangan anggota partainya terhadap konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Harga minyak mentah sendiri melemah pada perdagangan awal Kamis seiring optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran setelah gencatan senjata Israel-Lebanon diumumkan. Secara historis, kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi dan membuat suku bunga bertahan di level tinggi lebih lama. Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang tinggi umumnya menjadi faktor negatif bagi logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil. Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan bahwa risiko kenaikan inflasi akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Ia juga menegaskan belum ada kebutuhan untuk mengubah kebijakan moneter AS saat ini. Sementara itu, Senior Analyst StoneX, Matt Simpson, masih melihat prospek jangka panjang emas tetap positif meski volatilitas pasar diperkirakan meningkat menjelang akhir tahun.
Baca Juga: Trump Teken Aturan Baru, Permudah Pemecatan 8.000 Pegawai Federal AS "Saya tidak melihat tren bullish emas telah berakhir, tetapi pasar memang memerlukan fase koreksi. Karena itu, saya memperkirakan perdagangan akan berlangsung cukup fluktuatif hingga akhir tahun, meskipun tetap memiliki kecenderungan naik dengan target sekitar US$ 5.000 per ons troi," kata Simpson. Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak spot naik 0,6% menjadi US$ 73,13 per ons troi. Platinum menguat 0,7% ke level US$ 1.872,11 per ons troi, sedangkan paladium naik 0,9% menjadi US$ 1.313,51 per ons troi.
Prospek Harga Emas Masih Positif
Analis menilai ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta pergerakan dolar AS masih akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga emas dalam beberapa bulan mendatang. Apabila tensi geopolitik mereda dan harga minyak terus turun, pasar berpotensi kembali fokus pada prospek pelonggaran kebijakan moneter AS. Kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi harga emas untuk melanjutkan tren penguatannya menuju level psikologis US$ 5.000 per ons troi.