Harga Emas Menguat Karena Imbal Hasil Obligasi Turun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas naik tipis pada hari ini. Penguatan harga emas didukung oleh pelemahan imbal hasil obligasi karena investor menunggu data inflasi AS, yang akan dirilis akhir pekan ini. Data inflasi akan menjadi penentu jalur suku bunga Federal Reserve setelah bank sentral menunjukkan sikap dovish minggu lalu.

Senin (18/12) pukul 14.34 WIB, harga emas di pasar spot naik 0,2% menjadi US$ 2.023,10 per ons troi. Harga emas berjangka AS naik 0,1% pada US$ 2.037,40 per ons troi.

"Imbal hasil (yield) berada di lereng yang licin setelah pertemuan FOMC pekan lalu dan hal itu memungkinkan kenaikan lebih lanjut pada harga emas," kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade kepada Reuters.


Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun yang menjadi patokan berada di dekat level terendah sejak Juli. Imbal hasil obligasi yang lebih rendah mengurangi opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga.

Baca Juga: Harga Emas di Pegadaian, Siang Ini Senin 18 Desember 2023, Cek Daftarnya di Sini

The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil pada minggu lalu. Bank sentral AS juga memberi isyarat bahwa pengetatan kebijakan moneter bersejarah yang direkayasa selama dua tahun terakhir telah berakhir dan biaya pinjaman yang lebih rendah akan terjadi pada tahun 2024.

Namun, Presiden Fed New York John Williams menolak ekspektasi pasar yang melonjak terhadap penurunan suku bunga. Dia mengatakan, "Kita tidak benar-benar berbicara tentang penurunan suku bunga saat ini." Dia menyebut, terlalu dini untuk berspekulasi mengenai penurunan suku bunga.

Pasar sekarang memperkirakan sekitar 70% kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada bulan Maret, menurut CME FedWatch.

Baca Juga: Harga Emas Spot Menguat Tipis ke US$2.023,29 pada Senin (18/12)

Pelaku pasar sedang menunggu serangkaian data ekonomi AS minggu ini, termasuk laporan indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti bulan November pada hari Jumat.

Analis memperkirakan PCE inti akan naik 0,2% bulan lalu, dengan tingkat inflasi tahunan melambat ke level terendah sejak pertengahan tahun 2021 sebesar 3,4%.

“Data makro AS yang lebih lemah pada minggu ini akan mendukung anggapan bahwa The Fed bisa lebih agresif tahun depan dengan penurunan suku bunga. Jadi, hal itu akan membuat dolar dan imbal hasil obligasi lebih rendah dan akan sesuai dengan harga emas,” kata Waterer.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati