Harga Emas Menguat ke Level Tertinggi Sepekan Didorong Sinyal Dovish The Fed



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (6/1/2026) dan menyentuh level tertinggi dalam satu pekan terakhir.

Kenaikan ini didorong oleh pernyataan dovish sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) yang memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga, serta meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah memanasnya ketegangan geopolitik terkait Venezuela.

Berdasarkan data pasar, harga emas spot naik 0,4% menjadi US$ 4.463,63 per ounce pada pukul 07.22 GMT. Penguatan ini terjadi setelah harga emas melonjak hampir 3% pada sesi sebelumnya. Logam mulia tersebut sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 4.549,71 per ounce pada 26 Desember lalu.


Secara tahunan, kinerja emas tercatat sangat impresif. Sepanjang tahun lalu, harga emas melonjak hingga 64%, menandai kinerja tahunan terbaik sejak 1979.

Sejalan dengan pasar spot, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Februari juga menguat 0,5% ke level US$ 4.473,90 per ounce.

Kepala strategi makro global Tastylive, Ilya Spivak, menilai pernyataan para pejabat The Fed memang memberikan dukungan tambahan bagi pasar emas, meski belum mengubah secara signifikan arah kebijakan moneter.

Baca Juga: Emas Dunia Naik 0,5% ke US$4.470 Selasa (6/1): Dampak The Fed & Geopolitik Venezuela

“(Comments by Fed officials) certainly didn't hurt but it doesn't look like the calculus has changed all that much. We of course have a big week this week with the jobs report on Friday,” ujar Spivak.

Dari sisi kebijakan moneter, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengatakan pada Senin bahwa inflasi di AS memang menunjukkan tren melandai. Namun, ia mengingatkan adanya risiko tingkat pengangguran yang bisa “melonjak” lebih tinggi, sehingga meningkatkan kemungkinan pemangkasan suku bunga.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan setidaknya akan ada dua kali pemotongan suku bunga acuan The Fed sepanjang tahun ini. Fokus investor kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS atau nonfarm payrolls yang dijadwalkan rilis pada Jumat, sebagai petunjuk lanjutan arah kebijakan moneter.

Selain faktor suku bunga, sentimen safe haven juga diperkuat oleh perkembangan geopolitik di Amerika Latin. Presiden Venezuela yang terguling,

Nicolas Maduro, menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narkotika pada Senin, setelah penangkapannya oleh Presiden AS Donald Trump mengguncang para pemimpin dunia dan membuat pejabat di Caracas berupaya keras menyusun kembali strategi politik mereka.

Menurut Spivak, penangkapan Maduro mencerminkan ketegangan geopolitik yang lebih luas. “The capture of Maduro illustrated this rupture between the U.S. and China and more broadly (the ongoing trend of) de-globalisation,” katanya.

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah serta di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.

Baca Juga: Harga Emas Turun dari Level Tertinggi Sepekan Selasa (6/1) Pagi

Tak hanya emas, harga logam mulia lainnya juga mencatatkan penguatan signifikan. Harga perak spot melonjak 2,8% menjadi US$ 78,64 per ounce, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 83,62 per ounce pada 29 Desember.

Sepanjang tahun 2025, harga perak tercatat melonjak hingga 147%, jauh melampaui kinerja emas dan menjadi tahun terbaiknya sepanjang sejarah.

Sementara itu, harga platinum spot naik 2% ke level US$ 2.315,69 per ounce. Logam ini sempat menguat lebih dari 5% pada awal sesi perdagangan dan mencapai level tertinggi satu pekan, setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 2.478,50 per ounce pada Senin pekan lalu.

Penguatan harga logam mulia secara keseluruhan mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai, seiring ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global dan berlanjutnya ketidakpastian geopolitik di berbagai kawasan dunia.

Selanjutnya: 5,15 Juta Penumpang Berlayar dengan Pelni Sepanjang 2025

Menarik Dibaca: 5,15 Juta Penumpang Berlayar dengan Pelni Sepanjang 2025