KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat tertekan dalam sebulan terakhir. Meski begitu, investor ritel masih mempertanyakan apakah investasi emas, khususnya emas batangan, tetap menarik di tengah lebar
spread harga jual dan
buyback. Melansir Trading Economics pukul 17.59 WIB, harga emas spot naik 0,96% secara harian menjadi US$ 4.538 per ons troi. Namun, dalam sebulan terakhir harga emas masih terkoreksi 2,13%. Di pasar domestik, harga emas batangan di sejumlah produsen dan distributor logam mulia kompak menguat pada perdagangan Jumat (29/5). Meski demikian, investor tetap perlu mencermati selisih harga jual dan harga beli kembali (
buyback) yang dapat memengaruhi potensi keuntungan investasi jangka pendek.
Baca Juga: Terkoreksi 16%, Ketidakpastian Geopolitik hingga Inflasi Tekan Harga Bitcoin Harga emas bersertifikat ANTAM naik Rp 20.000 menjadi Rp 2.774.000 per gram. Sementara harga
buyback meningkat Rp 22.000 menjadi Rp 2.579.000 per gram. Dengan demikian, selisih harga jual dan
buyback mencapai Rp 195.000 atau sekitar 7,03%. Sementara itu, emas Galeri 24 dibanderol Rp 2.772.000 per gram. Adapun harga
buyback berada di level Rp 2.600.000 per gram, sehingga
spread tercatat sekitar Rp 172.000 atau setara 6,20%. Untuk emas UBS ukuran 1 gram, harga jual tercatat Rp 2.795.400 per gram dengan harga
buyback Rp 2.547.000. Artinya,
spread mencapai Rp 248.400 atau sekitar 8,89%. Adapun emas Pegadaian dijual seharga Rp 2.685.000 per gram dengan harga
buyback Rp 2.577.000 per gram. Selisih harga jual dan
buyback tercatat Rp 108.000 atau sekitar 4,02%. Sementara emas PT Hartadinata Abadi Tbk (
HRTA) dibanderol Rp 2.668.000 per gram dengan harga
buyback Rp 2.540.000 per gram. Dengan demikian,
spread mencapai Rp 128.000 atau sekitar 4,80%. Founder Traderindo, Wahyu Laksono mengatakan,
spread emas batangan fisik yang relatif lebar membuat instrumen ini kurang ideal untuk perdagangan jangka pendek. "Meskipun
spread emas fisik seperti Antam atau UBS relatif lebar, investasi ini tetap menguntungkan apabila strateginya disesuaikan untuk jangka panjang, minimal tiga hingga lima tahun," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: IHSG Melemah Tipis di Pekan Ini, Tekanan Rupiah dan Rebalancing MSCI Membayangi Menurut Wahyu,
spread yang besar merupakan konsekuensi dari biaya pencetakan, sertifikasi, keamanan fisik, hingga margin industri. Oleh karena itu, kenaikan harga emas global harus mampu melampaui
spread terlebih dahulu agar investor dapat mencatat keuntungan bersih. Meski demikian, emas batangan tetap dinilai efektif sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi rupiah. Selain itu, emas fisik juga dianggap memiliki keunggulan karena tidak bergantung pada stabilitas sistem keuangan atau lembaga tertentu. Di sisi lain, Wahyu melihat emas digital semakin menarik bagi investor ritel, terutama generasi muda yang mengutamakan fleksibilitas dan efisiensi transaksi. Ia menjelaskan,
spread emas digital umumnya lebih rendah dibandingkan emas fisik, yakni berkisar di bawah 3% hingga 5%. Hal itu membuat investor lebih cepat mencapai titik impas atau
break even point. Selain itu, transaksi emas digital dapat dilakukan secara
real time melalui aplikasi tanpa perlu datang ke gerai fisik. Nominal pembeliannya juga lebih fleksibel karena investor dapat mulai membeli emas dari denominasi kecil.
Baca Juga: Emas Fisik dan Digital Sama-sama Menarik, Investor Diminta Tetap Waspadai Spread "Emas digital juga mendukung strategi
dollar cost averaging atau pembelian rutin secara bertahap dengan lebih efisien," kata Wahyu. Wahyu menambahkan, emas digital juga mengurangi biaya dan risiko penyimpanan fisik seperti kebutuhan
safe deposit box atau risiko kehilangan. Namun, investor tetap perlu memastikan platform yang digunakan telah memiliki regulasi resmi, termasuk terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News