KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa, seiring meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Harga emas spot naik 1,2% menjadi US$ 5.076,26 per ons troi pada pukul 19.30 WIB, mendekati level psikologis US$ 5.100 per ons yang untuk pertama kalinya berhasil ditembus pada sesi sebelumnya. Pada Senin, emas bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.110,50 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari melemah tipis 0,2% ke posisi US$ 5.071,20 per ons.
Baca Juga: Demam Emas, Pembeli dan Penjual di China Masih Borong Emas Meski Harga Cetak Rekor Analis MarketPulse by OANDA, Zain Vawda, menyebut fluktuasi kebijakan tarif yang terus berubah dari Presiden Trump, ditambah meningkatnya kekhawatiran terkait potensi operasi militer di Iran, akan terus menopang permintaan emas sebagai aset aman. “Hilang-timbulnya kebijakan tarif AS serta ketegangan geopolitik membuat minat terhadap aset safe haven seperti emas sulit mereda dalam waktu dekat,” ujarnya. Sepanjang tahun 2026, harga emas telah melonjak sekitar 18%, melanjutkan tren penguatan dari tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, ekspektasi pemangkasan suku bunga AS, serta pembelian emas yang kuat oleh bank sentral. Dari sisi perdagangan, Presiden Trump pada Senin menyatakan akan menaikkan tarif impor mobil dan sejumlah barang lain dari Korea Selatan. Di saat yang sama, pejabat AS mengatakan Washington terbuka untuk dialog jika Iran ingin menghubungi, menyusul peringatan baru Trump kepada Teheran. Sejumlah bank besar seperti Deutsche Bank dan Société Générale memproyeksikan harga emas berpotensi menembus US$ 6.000 per ons pada 2026, mencerminkan ruang kenaikan yang masih terbuka.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.768 Per Dolar AS Hari Ini (27/1), Asia Bervariasi Perhatian pasar kini tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve yang dimulai Selasa waktu setempat. Bank sentral AS diperkirakan akan menahan suku bunga, sementara investor juga menantikan kepastian terkait pengganti Ketua The Fed, Jerome Powell. Di pasar logam lainnya, harga perak spot melonjak 7,4% menjadi US$ 111,59 per ons, setelah mencetak rekor tertinggi US$ 117,69 pada perdagangan Senin. Sepanjang tahun ini, harga perak telah meroket lebih dari 50%. Namun, BMI, unit riset dari Fitch Solutions, memperkirakan harga perak akan melandai dalam beberapa bulan ke depan seiring meredanya ketatnya pasokan dan puncaknya permintaan industri, khususnya akibat perlambatan ekonomi di China daratan.
Sementara itu, harga platinum spot turun 3,1% ke level US$ 2.673,50 per ons, setelah sehari sebelumnya mencetak rekor US$ 2.918,80 per ons. Adapun palladium menguat 2,2% menjadi US$ 2.025,60 per ons.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News