KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan harga emas turut menopang prospek
exchange traded fund (ETF) emas. Meski harga emas tidak selalu bergerak naik dalam jangka pendek, sejumlah faktor fundamental dinilai masih mendukung daya tarik instrumen yang memberikan eksposur terhadap logam mulia tersebut. Berdasarkan data
Bloomberg, pada perdagangan Jumat (21/8/2026), harga emas di pasar spot berada di level US$ 4.603 per ons troi, naik 1,91% dari posisi sebelumnya.
Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto mengatakan prospek ETF emas tidak terlepas dari pergerakan harga emas sebagai aset dasarnya. "Secara umum produk derivatif pasti akan mengikuti produk intinya yaitu emas itu sendiri," kata Eko.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Tetap Bullish, Begini Proyeksi Pergerakannya hingga Akhir Tahun Menurut Eko, kecenderungan harga emas yang masih meningkat menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek ETF emas. Ia juga menilai emas memiliki rekam jejak positif untuk investasi jangka panjang di Indonesia. Dengan karakteristik tersebut, ETF emas dapat menjadi salah satu alternatif bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap emas melalui pasar modal. Meski demikian, Eko mengingatkan investor tetap perlu memperhatikan pengelolaan dan transparansi produk. Menurutnya, kinerja suatu produk investasi turut bergantung pada bagaimana produk tersebut dikelola dan dijalankan. Salah satu penyedia ETF emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah PT Syailendra Capital melalui produk XSGO. Berdasarkan data Stockbit, harga XSGO berada di level Rp 1.058 per unit pada perdagangan Jumat (21/8), naik 1,34% dari posisi sebelumnya.
Head of Investment Specialist Syailendra Capital Syanne Gracetinne mengatakan, pihaknya masih melihat prospek ETF emas hingga akhir 2026 secara positif. Namun, ia tidak mengasumsikan harga emas akan selalu bergerak naik dalam jangka pendek.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksikan Terbang ke US$ 6.000 hingga Akhir Tahun Setelah mencatat kenaikan yang sangat kuat pada 2025, Syanne menilai koreksi maupun fase konsolidasi harga emas pada 2026 merupakan kondisi yang wajar. Menurut Syanne, emas tetap memiliki peran sebagai aset strategis. Emas tidak hanya dibeli untuk mengejar
capital gain, tetapi juga berfungsi sebagai
diversifier dan
store of value dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik, fiskal, maupun moneter. Selain itu, permintaan struktural terhadap emas masih menjadi faktor pendukung. Permintaan dari bank sentral dan kebutuhan diversifikasi cadangan dinilai tetap relevan untuk menopang emas dalam jangka panjang. Karena itu, koreksi harga emas dalam jangka pendek tidak serta-merta mengubah fundamental investasi emas. Syanne menambahkan, ETF emas tetap relevan ketika harga emas memasuki fase yang lebih volatil maupun bergerak
sideways. Menurutnya, ETF memberikan cara yang lebih mudah diakses bagi investor untuk memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang transparan dan dapat diperdagangkan di Bursa. "XSGO menawarkan cara yang lebih
accessible untuk mendapatkan
exposure emas," ujar Syanne.
Ke depan, perkembangan harga emas, permintaan struktural, serta kondisi ekonomi dan geopolitik akan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi prospek ETF emas.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Ini Sinyal Rebound dan Prospeknya hingga Akhir 2026 Dengan demikian, meski harga emas berpotensi mengalami koreksi dalam jangka pendek, instrumen ETF emas masih memiliki ruang untuk berkembang seiring dengan kebutuhan investor terhadap akses investasi berbasis emas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News