KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas menguat tipis pada perdagangan Jumat (10/7/2026), seiring melemahnya dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, logam mulia tersebut masih berada di jalur penurunan mingguan karena meningkatnya kekhawatiran bahwa eskalasi konflik antara AS dan Iran dapat memicu inflasi serta mendorong bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,2% menjadi US$ 4.128,92 per ons troi pada pukul 03.03 GMT (10:03 WIB). Namun, secara mingguan harga emas diperkirakan mencatat penurunan lebih dari 1%.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus bergerak stabil di level US$ 4.139,50 per ons troi. Pelemahan dolar AS ke level terendah dalam sepekan membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih terjangkau bagi investor yang memegang mata uang lainnya.
Baca Juga: Ringgit Rebound Jumat (10/7), Rupiah Bertahan di Atas Level Rp 18.000 per Dolar AS “Emas saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah penguatan pada perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar masih enggan mengambil posisi beli lebih lanjut di tengah ketidakpastian yang menyelimuti hubungan antara Amerika Serikat dan Iran,” ujar Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer. Di sisi lain, harga minyak diperkirakan membukukan kenaikan mingguan setelah AS dan Iran terus saling melancarkan serangan. Militer Iran dilaporkan meluncurkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk pada Kamis (9/7/2026), sebagai respons atas serangan Washington ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Gelombang serangan terbaru tersebut memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi dan memperkuat kemungkinan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga tahun ini. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai 64%, meningkat dari sekitar 54% sepekan sebelumnya. Emas selama ini dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tariknya cenderung menurun ketika suku bunga berada pada level tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Baca Juga: Rasio Gol Kylian Mbappe di Piala Dunia Tembus 1:1, Bisa Salip Rekor Messi? “Saya memperkirakan emas masih akan menarik minat beli ketika harganya terkoreksi selama harga minyak bertahan di kisaran saat ini. Namun, lonjakan tajam harga minyak berpotensi kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan suku bunga, yang justru akan merugikan emas,” tambah Waterer.
Risalah rapat Federal Reserve pada Juni yang dirilis awal pekan ini juga menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap tingginya inflasi. Di tengah kondisi tersebut, HSBC pada Kamis (9/7/2026) memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk 2026 dan 2027. Langkah itu diambil karena ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS yang semakin agresif serta penguatan dolar AS. Adapun logam mulia lainnya turut menguat pada perdagangan Jumat. Harga perak spot naik 0,8% menjadi US$ 60,46 per ons troi, platinum menguat 1,6% menjadi US$ 1.636,68 per ons troi, dan paladium naik 1,6% menjadi US$ 1.267 per ons troi. Meski demikian, ketiga logam tersebut diperkirakan tetap mencatatkan pelemahan dalam perdagangan sepekan terakhir.