Harga Emas Menguat Usai Minyak Anjlok, Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa (4/8/2026), didorong turunnya harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi sekaligus mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Di saat yang sama, pelaku pasar masih menunggu rangkaian data ketenagakerjaan AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,6% menjadi US$ 4.078,10 per ons troi hingga pukul 09.29 EDT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 1,1% ke level US$ 4.134,60 per ons troi.


Pelemahan harga minyak menjadi katalis utama penguatan emas setelah Qatar menyatakan upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik Amerika Serikat-Iran masih terus berlangsung.

Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi, Dolar Menguat dan Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja AS

Pernyataan tersebut membuat harga minyak mentah Brent terkoreksi lebih dari 4%, meski gangguan terhadap jalur pengiriman minyak utama masih berlanjut.

Head of Global Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, menilai penurunan harga minyak ikut memperbaiki prospek suku bunga jangka pendek sehingga menjadi sentimen positif bagi emas.

"Turunnya harga minyak menjadi salah satu pendorong kenaikan harga emas," ujarnya.

Harga energi yang lebih rendah dinilai dapat meredakan tekanan inflasi, sehingga mengurangi kebutuhan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga.

Kondisi ini menguntungkan emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil sehingga biasanya kurang menarik ketika suku bunga tinggi.

Meski demikian, pasar masih mencermati arah kebijakan The Fed. Sebelumnya, Presiden Federal Reserve New York John Williams menyatakan tetap optimistis tekanan inflasi akan terus mereda secara bertahap.

Baca Juga: Harga Emas Spot Stabil Selasa (4/8), Cermati Konflik AS-Iran dan Data Tenaga Kerja AS

Namun, ia menegaskan bank sentral siap kembali menaikkan suku bunga apabila inflasi tidak bergerak sesuai harapan.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September mencapai sekitar 61%, setelah bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhirnya.

Fokus investor kini tertuju pada sejumlah data ketenagakerjaan AS pekan ini, dimulai dari laporan tenaga kerja ADP yang akan dirilis Rabu (5/8), disusul data nonfarm payrolls pada Jumat (7/8).

Data tersebut akan menjadi acuan penting untuk menilai kekuatan ekonomi AS sekaligus menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Melek mengatakan, setiap indikasi pelemahan ekonomi AS berpotensi menjadi sentimen positif bagi emas karena akan mengurangi urgensi The Fed untuk menaikkan suku bunga.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Menguat, Data Tenaga Kerja AS yang Lemah Redam Tekanan Suku Bunga

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 2,6% menjadi US$ 59,70 per ons troi. Sementara itu, platinum melesat 5,6% ke level US$ 1.719,49 per ons troi dan palladium naik 5% menjadi US$ 1.328,00 per ons troi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News