KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia berpotensi mencatat penurunan mingguan untuk kedua kalinya secara berturut-turut, meskipun sempat menguat tipis pada perdagangan Jumat (13/3/2026). Penguatan dolar AS dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menekan pergerakan logam mulia tersebut. Pada perdagangan Jumat siang, harga emas spot naik 0,4% menjadi sekitar US$ 5.097,24 per ons. Namun secara mingguan, harga emas masih berada di jalur penurunan sekitar 1,3%.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April turun 0,4% menjadi US$ 5.102,90 per ons.
Baca Juga: Harga Emas Diprediksi Turun Dalam Sepekan, Terbebani Harapan Penurunan Suku Bunga Analis independen Ross Norman mengatakan, pelemahan pasar saham mendorong investor menjual emas untuk mendapatkan likuiditas cepat. “Emas digunakan sebagai cara mendapatkan uang tunai cepat ketika ada kerugian di aset lain,” ujarnya. Ia menambahkan, lonjakan harga minyak yang menembus US$ 100 per barel juga meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi ini membuat ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS semakin berkurang, yang pada akhirnya menekan harga emas. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi pasar. Iran menegaskan akan tetap menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman energi dunia. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Konflik antara AS dan Israel melawan Iran juga memasuki pekan kedua dengan serangan drone dan rudal di sejumlah wilayah Timur Tengah. Dampaknya, pasar saham Asia diperkirakan mencatat penurunan mingguan untuk kedua kalinya secara beruntun.
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik ke US$5.112,34 Jumat (13/3) Pagi, Didukung Pelemahan Dolar Di sisi lain, harga minyak diperkirakan menguat secara mingguan. Kenaikan ini terjadi meski Amerika Serikat mencoba meredakan kekhawatiran pasokan dengan memberikan izin selama 30 hari bagi sejumlah negara untuk membeli minyak Rusia. Badan Energi Internasional (IEA) juga sepakat melepas cadangan strategis dalam jumlah besar hingga 400 juta barel, termasuk kontribusi 172 juta barel dari Amerika Serikat. Investor kini menunggu rilis data inflasi utama Amerika Serikat, yakni indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) Januari, yang sempat tertunda dan dijadwalkan keluar pada Jumat. Pelaku pasar juga memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan dua hari pekan depan, menurut alat pemantau FedWatch dari CME Group.
Sementara itu, dolar AS menguat ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di level tertinggi dalam hampir enam pekan.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak 1% Ditopang Redanya Kekhawatiran Inflasi dan Pelemahan Dolar AS “Dolar kini dipandang sebagai aset lindung nilai utama, sehingga menekan emas. Meski demikian, harga emas kemungkinan tetap bertahan di atas level US$ 5.000 per ons,” kata Norman. Di pasar logam mulia lainnya, harga perak turun 0,3% menjadi US$83,50 per ons. Platinum merosot 2,8% menjadi US$2.072,90 per ons, sementara palladium melemah 1,1% ke level US$ 1.600,34 per ons.