KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia mencatat kenaikan pada perdagangan Jumat (waktu setempat), didorong ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta penurunan imbal hasil obligasi Eropa. Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS untuk mengukur arah kebijakan moneter bank sentral Negeri Paman Sam. Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot naik 0,5% menjadi US$5.021,31 per ons pada pukul 12.12 GMT dan berpotensi membukukan kenaikan mingguan sebesar 0,4%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April menguat 0,9% ke level US$5.040,10 per ons.
Ketegangan AS-Iran dan Penurunan Yield Eropa Topang Harga Emas
Kenaikan harga emas terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Iran. Trump pada Kamis memperingatkan Teheran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya dalam waktu 10 hingga 15 hari, atau menghadapi konsekuensi serius.
Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik, sehingga mendorong permintaan aset safe haven seperti emas.
Baca Juga: Harga Emas Naik, Jumat (20/2), Investor Masih Tunggu Sinyal Arah Bunga The Fed Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah kawasan zona euro tercatat menuju penurunan mingguan kedua secara berturut-turut. Pekan ini diwarnai spekulasi mengenai kepemimpinan European Central Bank (ECB) serta meningkatnya ketegangan global. Analis Quantitative Commodity Research, Peter Fertig, menjelaskan bahwa kenaikan harga di tenor panjang obligasi Eropa menyebabkan yield turun. “Penurunan yield ini mengurangi opportunity cost dalam memegang emas,” ujarnya. Emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) cenderung lebih menarik ketika suku bunga dan yield obligasi melemah.
Investor Menanti Data Inflasi AS
Fokus pasar kini tertuju pada data Personal Consumption Expenditure (PCE) AS, indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed). Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan inflasi inti PCE akan naik 0,3% secara bulanan. Data tersebut dijadwalkan rilis pukul 13.30 GMT. Pelaku pasar memantau data ini untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan moneter The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, mayoritas trader memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan Maret mendatang. Prospek suku bunga yang stabil atau lebih rendah umumnya mendukung harga emas, karena menekan biaya peluang memegang logam mulia tersebut dibandingkan instrumen berbunga.
Baca Juga: Harga Emas Bersiap Mencatat Penurunan Mingguan, Dipicu Penguatan Dolar AS Proyeksi Goldman Sachs dan Permintaan Asia
Dalam catatannya, Goldman Sachs menyebut bahwa dalam skenario dasar (base case), harga emas diperkirakan naik secara bertahap sepanjang tahun ini. Proyeksi tersebut didorong oleh pembelian bank sentral yang kembali meningkat serta investor swasta yang menambah eksposur seiring potensi pemangkasan suku bunga AS. Dari sisi permintaan fisik, pasar emas India dilaporkan masih lesu pekan ini akibat volatilitas harga yang membuat pembeli menahan diri. Sementara itu, sejumlah pusat perdagangan utama di Asia, termasuk China, tutup karena libur Tahun Baru Imlek.
Harga Perak, Platinum, dan Palladium Ikut Menguat
Kenaikan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot melonjak 2,8% menjadi US$80,53 per ons. Platinum naik 2,3% ke level US$2.118,11 per ons, sedangkan palladium menguat 1,6% menjadi US$1.712,45 per ons. Ketiga logam tersebut juga berada di jalur penguatan mingguan. Secara keseluruhan, kombinasi ketegangan geopolitik, pelemahan yield obligasi Eropa, serta ekspektasi kebijakan moneter AS menjadi katalis utama penguatan harga emas dan logam mulia lainnya pada akhir pekan ini.