Harga Emas Mulai Naik, Simak Strategi Investasi Emas Fisik dan Digital



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia mulai rebound setelah sempat tertekan dalam sebulan terakhir. Di tengah pergerakan yang masih fluktuatif tersebut, investor ritel dinilai perlu lebih selektif menentukan strategi investasi emas, terutama karena spread harga jual dan buyback emas batangan masih relatif lebar.

Melansir Trading Economics pukul 17.59 WIB, harga emas spot naik 0,96% secara harian menjadi US$ 4.538 per ons troi. Namun, dalam sebulan terakhir harga emas masih terkoreksi 2,13%.

Ekonom Yusuf Rendy Manilet mengatakan investor perlu memahami tujuan investasi emas sejak awal, apakah untuk mencari keuntungan jangka pendek atau sebagai instrumen penyimpan nilai jangka panjang.


Menurut Yusuf, emas batangan kurang ideal untuk trading jangka pendek karena spread harga jual dan buyback masih cukup besar.

Baca Juga: Harga Emas Menguat Lagi, Simak Prospek Emas Fisik dan Digital

Misalnya, harga emas bersertifikat ANTAM saat ini dibanderol Rp 2.774.000 per gram, sementara harga buyback berada di Rp 2.579.000 per gram. Artinya, spread mencapai Rp 195.000 atau sekitar 7,03%.

Sementara itu, emas Galeri 24 dijual Rp 2.772.000 per gram dengan harga buyback Rp 2.600.000 per gram, sehingga spread mencapai sekitar 6,20%. Adapun emas UBS ukuran 1 gram memiliki spread sekitar 8,89%, dengan harga jual Rp 2.795.400 dan buyback Rp 2.547.000 per gram.

"Investor yang membeli emas pada akhir April 2026 lalu menjualnya hari ini kemungkinan masih mengalami kerugian meskipun harga emas dunia sebenarnya sudah naik," ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Oleh karena itu, Yusuf menyarankan investor menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA) atau membeli emas secara bertahap dan rutin. Strategi ini dinilai lebih efektif saat harga emas bergerak fluktuatif karena dapat menjaga rata-rata harga pembelian.

Selain itu, strategi DCA membuat investor tidak terlalu bergantung pada momentum pasar atau market timing. Pendekatan ini dinilai lebih cocok bagi investor yang menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai dan investasi jangka panjang.

Yusuf mencontohkan, investor yang membeli emas pada Mei 2025 saat harga masih berada di kisaran Rp 1,9 juta per gram kini telah menikmati kenaikan sekitar 35% berdasarkan harga buyback saat ini.

Baca Juga: Terkoreksi 16%, Ketidakpastian Geopolitik hingga Inflasi Tekan Harga Bitcoin

Di sisi lain, Yusuf melihat emas digital semakin menarik, terutama bagi investor muda yang ingin mulai membangun kebiasaan investasi secara bertahap. Selain spread yang lebih rendah, yakni sekitar 2%–3%, emas digital juga menawarkan fleksibilitas transaksi dan nominal pembelian yang lebih terjangkau.

"Dengan dana Rp 10.000 pun investor sudah bisa mulai membeli emas," kata Yusuf.

Meski demikian, Yusuf mengingatkan investor tetap perlu memastikan platform emas digital yang digunakan telah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan memiliki kustodian yang jelas.

Menurut Yusuf, emas digital dan emas fisik sebaiknya tidak perlu dibandingkan secara berlebihan karena fungsinya bisa saling melengkapi. dipertentangkan karena keduanya dapat saling melengkapi.

"Misalnya sebagian digunakan untuk akumulasi rutin lewat digital, sementara sebagian lagi disimpan dalam bentuk fisik untuk jangka panjang maupun perlindungan saat terjadi risiko sistemik karena bisa dipegang langsung oleh pemiliknya," tutup Yusuf. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News