Harga Emas Mulai Pulih, Ini Pilihan Instrumen yang Tepat untuk Investor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia mulai menunjukkan pemulihan setelah terkoreksi lebih dari 14% secara bulanan, membuka kembali peluang bagi investor untuk masuk ke pasar.

Setelah sepekan lalu pada Senin (23/3), harga emas sempat koreksi ke harga terendah US$ 4.201 per ons troi. Namun, sejak saat itu harga berangsur pulih.

Pada perdagangan Selasa (31/3) pukul 15.16 WIB, harga emas tercatat menguat 1,15% menjadi US$ 4.567 per ons troi, meskipun secara bulanan emas masih mencatatkan koreksi sebesar 14,24%.


Baca Juga: Rupiah Tak Berdaya DiTutup Lemah Rp 17.041 Selasa (31/3), Waspada Tekanan Lanjutan

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai momentum ini dapat dimanfaatkan investor untuk mulai mengakumulasi emas dengan catatan memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi.

Menurutnya, emas digital atau spot menawarkan kemudahan dan fleksibilitas karena dapat dibeli dalam nominal kecil serta tidak memiliki risiko penyimpanan fisik.

Instrumen ini cocok bagi investor ritel yang ingin menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) maupun trader jangka pendek.

"Kami sangat bergantung pada keamanan platform atau aplikasi yang digunakan. Selain itu, jika kami ingin mencairkannya menjadi emas fisik, biasanya akan dikenakan biaya cetak dan asuransi pengiriman yang cukup tinggi," kata Wahyu, Selasa (31/3/2026).

Di sisi lain, emas batangan dinilai lebih ideal untuk investasi jangka menengah hingga panjang. 

Selain memiliki harga yang transparan dan selisih jual-beli yang relatif rendah, emas batangan juga tergolong likuid karena mudah dijual kembali atau digadaikan.

Meski begitu, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko penyimpanan. Kehilangan sertifikat atau kerusakan kemasan juga dapat mempengaruhi nilai jual kembali.

Baca Juga: Makin Anjlok, Rupiah Ditutup di Rp 17.041 Per Dolar AS Hari Ini (31/3)

Sementara itu, emas perhiasan lebih menonjol dari sisi estetika dan nilai guna. Namun, instrumen ini kurang optimal untuk investasi karena adanya biaya pembuatan yang cukup tinggi serta kadar emas yang umumnya lebih rendah dibandingkan emas batangan.

"Lebih tepat dikategorikan sebagai aset gaya hidup atau simpanan darurat keluarga daripada instrumen untuk mencari keuntungan maksimal dari kenaikan harga emas," kata Wahyu.

Senada, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo juga mengatakan prioritas bagi investor ritel yang berorientasi pada nilai adalah emas batangan (logam mulia) atau emas digital (spot) dibandingkan perhiasan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News