KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu (2/9/2026), setelah sempat merosot ke level terendah dalam hampir sebulan. Penguatan emas terjadi seiring dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury yang mulai turun dari level tertingginya. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada akhir pekan ini. Data tersebut dinilai penting untuk memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot naik 1,1% menjadi US$ 4.373,87 per ons troi pada pukul 20.57 WIB. Harga tersebut memantul setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 7 Agustus 2026.
Baca Juga: Chevron Siapkan Investasi US$ 7 Miliar di Venezuela, Targetkan 600.000 Barel/Hari Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember 2026 naik 0,6% menjadi US$ 4.423,90 per ons troi. Direktur perdagangan logam di High Ridge Futures David Meger mengatakan, penurunan imbal hasil obligasi AS menjadi salah satu faktor yang membantu harga emas bangkit dari tekanan sebelumnya. "Salah satu alasan emas mampu kembali bergerak di atas level sebelumnya adalah karena imbal hasil turun sedikit pada hari ini, sehingga memungkinkan emas memantul dari beberapa level terendah baru-baru ini," ujar Meger. Menurut dia, pergerakan sektor energi dan imbal hasil obligasi masih menjadi perhatian utama bagi pasar emas ke depan. Imbal hasil US Treasury sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga tahun, sebelum akhirnya bergerak turun. Pada saat yang sama, indeks dolar AS juga melemah dari level tertinggi dalam hampir tiga pekan. Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan, kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang AS bukan didorong oleh kekhawatiran terhadap inflasi. Menurut dia, pergerakan tersebut lebih mencerminkan kondisi perekonomian AS yang solid.
Pasar Abaikan Data ADP, Fokus Payroll AS
Sementara itu, pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta AS pada Agustus tercatat di bawah ekspektasi. Namun, data tersebut tidak banyak menggerakkan harga emas karena investor memilih menunggu laporan ketenagakerjaan AS yang lebih komprehensif pada Jumat (4/9/2026). Kepala analisis pasar di StoneX Rhona O'Connell menilai data ketenagakerjaan ADP kurang dapat diandalkan sebagai indikator utama pasar.
Baca Juga: Bank of Canada Tahan Suku Bunga 2,25%, Waspadai Dampak Tarif Trump "ADP tidak dapat diandalkan dan mungkin menentukan sentimen awal terhadap nonfarm, tetapi nonfarm jauh lebih penting bagi pasar," kata O'Connell. Data nonfarm payrolls (NFP) akan menjadi salah satu indikator penting yang dicermati investor untuk memperkirakan keputusan The Fed terkait suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 64% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan ini. Perubahan ekspektasi suku bunga menjadi faktor penting bagi emas. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya meningkatkan daya tarik aset berbunga seperti obligasi, sekaligus menekan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Bank Sentral Belanda Pindahkan Cadangan Emas
Di sisi lain, bank sentral Belanda mengatakan telah memindahkan 86 metrik ton emas dari New York dan Ottawa ke London selama enam bulan terakhir. Pemindahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemudahan perdagangan emas sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi kondisi krisis. Kenaikan harga emas juga diikuti sejumlah logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 1,6% menjadi US$ 65,2858 per ons troi. Platinum menguat 1,8% menjadi US$ 1.771,52 per ons troi, sedangkan palladium naik 2,4% menjadi US$ 1.342,50 per ons troi.
Baca Juga: Lowongan Kerja AS Cuma Tambah 38.000, Jauh di Bawah Ekspektasi Ekonom