Harga Emas Naik 1,3%, Investor Menanti Data PPI dan Penjualan Ritel AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia menguat lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (15/10/2026), seiring pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil US Treasury. Investor kini mencermati data inflasi terbaru AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai kemungkinan Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga pada bulan ini.

Harga emas di pasar spot naik 1,3% menjadi US$ 4.156,58 per ons troi pada pukul 18.24 WIB. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember meningkat 1,7% menjadi US$ 4.178,50 per ons troi.

Indeks dolar AS melemah 0,5%. Pelemahan ini membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga turun ke level terendah dalam tiga pekan.


Baca Juga: Serangan Houthi Memanas, Uni Eropa dan Negara Teluk Tunda KTT di Arab Saudi

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen mengatakan, penurunan imbal hasil riil dan permintaan investasi yang tetap kuat membantu harga emas pulih setelah terkoreksi menyusul rilis indeks harga konsumen (CPI) AS. Namun, ia mengingatkan bahwa prospek teknikal harga emas masih rentan.

Harga konsumen AS meningkat lebih cepat pada September akibat lonjakan biaya bensin. Tekanan harga juga meluas ke luar sektor energi, sehingga memunculkan kekhawatiran di kalangan ekonom bahwa inflasi yang mendasari mulai sulit dikendalikan.

Pelaku pasar kini menantikan data indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) dan penjualan ritel AS yang dijadwalkan dirilis pada pukul 12.30 GMT. Kedua data tersebut diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai tren inflasi dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Kepala Analisis Pasar StoneX Rhona O'Connell mengatakan, apabila angka PPI sesuai ekspektasi pasar, yakni tumbuh 5,4% secara tahunan, tren tersebut akan berlanjut dan berpotensi mendorong kenaikan kembali imbal hasil obligasi.

Menurut dia, perkembangan tersebut perlu dicermati dengan saksama.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 29% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada akhir bulan ini. Angka tersebut meningkat dari 22% sebelum data inflasi terbaru dirilis.

Emas secara tradisional dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil tersebut menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga.

Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan. Meski demikian, ia mengisyaratkan tidak ada kebutuhan untuk mengambil tindakan pada pertemuan Oktober.

Sementara itu, Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan Michelle Bowman mengatakan bahwa bank sentral AS masih memiliki waktu untuk menunggu sebelum mengambil keputusan.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,9% menjadi US$ 56,69 per ons troi. Harga platinum menguat 0,7% menjadi US$ 1.617,50 per ons troi, sedangkan paladium melonjak 3,5% menjadi US$ 1.132 per ons troi.

TAG: