Harga Emas Naik 1,4% ke US$ 4.414, Pasar Tunggu Data Inflasi AS



KONTAN.CO.ID - Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu (9/9/2026), didukung pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya perhatian investor terhadap data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Melansir Reuters, harga emas di pasar spot naik 1,4% menjadi US$ 4.414,30 per ons troi pada pukul 13.54 waktu setempat atau 17.44 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,5% dan ditutup di US$ 4.458,80 per ons troi.

Baca Juga: Brent Tembus US$ 100, Pasokan Minyak Timur Tengah Makin Tertekan


Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan pelemahan dolar dalam beberapa waktu terakhir memberikan dukungan bagi pasar emas.

Dolar AS berada di sekitar level terendah dalam dua pekan. Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga meningkatkan daya tarik komoditas tersebut.

Penguatan emas terjadi ketika harga minyak mentah Brent menembus US$ 100 per barel akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan tekanan inflasi.

Baca Juga: Pergeseran Tren Investasi Kalangan Superkaya Asia​: Emas, Kripto & Malaysia Dipilih

Investor Menanti Data Inflasi AS

Kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi melalui biaya transportasi dan gangguan rantai pasok.

“Dengan harga minyak yang lebih tinggi, ada dorongan inflasi. Namun, penyebabnya, yakni gangguan transportasi dan rantai pasok, juga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi karena kebijakan moneter kini lebih berfokus pada pengendalian inflasi,” kata Rhona O'Connell, kepala analisis pasar StoneX.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat naik ke level tertinggi sejak November 2023 sebelum kembali turun.

Pelaku pasar kini menunggu data Producer Price Index (PPI) AS yang dirilis Kamis dan data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada Jumat.

Data tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan investor dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 60% The Fed menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pekan depan.

Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi tekanan bagi emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Baca Juga: Iran Klaim Serang 10 Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Brent Tembus US$100

Harga Perak dan Platinum Melonjak

Kenaikan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak di pasar spot melonjak 3,3% menjadi US$ 67,91 per ons troi.

Platinum juga menguat 5,1% menjadi US$ 1.906,20 per ons troi, sedangkan palladium naik 1,2% menjadi US$ 1.365,50 per ons troi.

Di sisi lain, World Platinum Investment Council memperkirakan pasar platinum global akan mengalami surplus pada tahun ini untuk pertama kalinya sejak 2022. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh melemahnya permintaan investasi dan permintaan perhiasan.

Baca Juga: Investor ETF Amerika Lebih Pilih Obligasi Tenor Pendek, Mengapa?