Harga Emas Naik Lebih dari 1% di Tengah Optimisme Perdamaian Iran-AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia melonjak lebih dari 1% pada perdagangan Senin (26/5/2026), seiring meningkatnya harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik Iran.

Sentimen tersebut mendorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penurunan harga minyak, sehingga meredakan kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek suku bunga tinggi dalam jangka panjang.

Berdasarkan data perdagangan global, harga emas spot naik 1,5% menjadi US$ 4.574,17 per ons pada pukul 11.18 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni menguat 1,2% ke level US$ 4.576,00 per ons. Pasar AS sendiri tutup karena libur Memorial Day.


Pelaku pasar tetap optimistis meskipun pemerintah AS dan Iran sama-sama meredam ekspektasi terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu menyatakan bahwa kedua negara sebagian besar telah merundingkan nota kesepahaman untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Baca Juga: PM Israel Netanyahu Akui Sulit Pengaruhi Trump soal Negosiasi Iran

Namun demikian, kedua pihak masih menghadapi sejumlah isu krusial yang perlu diselesaikan guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.

Di sisi lain, pasar saham global menguat, sedangkan harga minyak turun di bawah US$ 100 per barel dan menyentuh level terendah dalam dua pekan. Nilai tukar dolar AS juga bergerak di sekitar level terendah dalam satu minggu terakhir.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan bahwa pergerakan harga aset keuangan saat ini sangat dipengaruhi oleh harga minyak, termasuk emas.

“Aset keuangan saat ini sangat dipengaruhi oleh harga minyak, dan harga emas bukan pengecualian,” ujar Staunovo.

Ia menambahkan, “Penurunan harga minyak mendorong kenaikan harga emas karena pasar memperkirakan hal itu akan memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve.”

Menurutnya, tren tersebut masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.

Baca Juga: Ferrari Luncurkan Mobil Listrik Pertama “Luce”, Taruhan Baru di Era EV Premium

Sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, harga emas telah turun sekitar 14%. Pelemahan ini dipicu oleh tingginya harga energi yang memunculkan kekhawatiran inflasi serta prospek suku bunga AS yang lebih tinggi.

Saat ini, para trader memperkirakan peluang sebesar 40% bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang. Proyeksi ini berubah signifikan dibandingkan sebelum konflik pecah, ketika mayoritas ekonom memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.

Di tengah situasi tersebut, Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve pada Jumat lalu. Pelantikannya berlangsung pada momen penting bagi perekonomian AS, ketika lonjakan harga bensin akibat konflik Timur Tengah memicu inflasi dan menekan sentimen konsumen.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak spot naik 3,6% menjadi US$ 78,23 per ons. Sementara platinum menguat 2,4% ke level US$ 1.969,12 per ons, dan paladium melonjak 3,4% menjadi US$ 1.393,78 per ons.