KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga emas naik lebih dari 1% pada Jumat (9/10/2026), mencapai level tertinggi dalam sepekan, didorong oleh kombinasi penurunan harga minyak dan pelemahan dolar AS, sementara pasar mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve. Mengutip
Reuters, harga emas spot naik 1,2% menjadi US$ 4.182,59 pada pukul 12.00 GMT, menuju kenaikan mingguan sekitar 1%. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga naik 1,2%, diperdagangkan pada level US$ 4.207,30 per ons.
Baca Juga: China Berjanji Kendalikan Gelembung Teknologi dan Batasi Risiko AI Harga minyak turun pada hari Jumat karena kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu AS bulan depan, di tengah pembicaraan untuk mengakhiri konflik yang telah mengganggu pasar energi global. "Hal ini memperkuat argumen bagi The Fed untuk menahan suku bunga bulan ini, sehingga menekan nilai dolar AS dan menurunkan imbal hasil obligasi dari level tertingginya, yang menciptakan kondisi ideal bagi pemulihan harga emas," ujar Nikos Tzabouras, analis pasar senior di Tradu.com (milik Jefferies). Namun, Tzabouras menambahkan bahwa emas masih rentan terhadap penurunan kembali. "Ketidakpastian makro-geopolitik dan tekanan inflasi masih terus berlanjut, pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga The Fed di masa mendatang, dan imbal hasil obligasi tetap tinggi, sehingga mempertahankan biaya peluang (
opportunity cost) memegang emas pada tingkat yang cukup tinggi." Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil (bunga).
Baca Juga: Badan PBB Ini Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Dunia Melambat Tahun Ini Presiden The Fed wilayah St. Louis, Alberto Musalem, mengatakan pada hari Kamis bahwa bank sentral AS perlu kembali menaikkan suku bunga untuk mengembalikan inflasi ke target 2%, meskipun ia enggan berkomentar mengenai langkah apa yang sebaiknya diambil para pembuat kebijakan dalam pertemuan mereka akhir bulan ini. Para pelaku pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 19% untuk kenaikan suku bunga pada bulan Oktober dan probabilitas 84% untuk setidaknya satu kali kenaikan sebesar 25 basis poin pada bulan Desember, menurut perangkat FedWatch dari CME. Rilis data CPI pekan depan dapat menjadi katalis bagi pergerakan besar harga emas berikutnya, ujar Han Tan, kepala analis pasar di Bybit.