KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia menguat pada perdagangan Senin (27/7/2026) setelah meredanya konflik di Timur Tengah memicu penurunan tajam harga minyak, sehingga meredakan kekhawatiran inflasi. Di saat yang sama, pelaku pasar juga menunggu keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot naik 0,9% menjadi US$ 4.087,79 per ons troi pada pukul 04.21 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) menguat 0,5% ke level US$ 4.089,90 per ons troi.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan penguatan emas saat ini didorong oleh kombinasi pelemahan harga minyak dan nilai tukar dolar AS. "Emas menjadi penerima manfaat yang jelas hari ini dari kombinasi pergerakan harga minyak dan dolar AS," kata Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade. Indeks dolar AS (DXY) turun sekitar 0,3%, membuat logam mulia yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya sehingga meningkatkan daya tarik emas.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Turun Usai Ketegangan Teluk Mereda Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Minggu bahwa Iran akan menghentikan serangannya selama Amerika Serikat melakukan hal yang sama. Sementara itu, Amerika Serikat menghentikan sementara kampanye pengebomannya setelah para penasihat Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa sasaran yang tersedia semakin sedikit dan muncul kekhawatiran terhadap menipisnya persediaan persenjataan militer AS. Perkembangan tersebut mendorong harga minyak turun lebih dari 4% dalam sehari. Sejak konflik di Timur Tengah pecah pada awal tahun ini, harga minyak sempat melonjak dan memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi serta meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut sempat menjadi tekanan bagi harga emas. Meski dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas menjadi kurang menarik ketika suku bunga meningkat karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.
Baca Juga: Serangan Houthi Lumpuhkan Jalur Laut Merah, Lalu Lintas Kapal Anjlok Meski demikian, Waterer tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang.
"Dalam jangka panjang, saya tetap optimistis terhadap emas. Arah pergerakan emas dalam waktu dekat sangat bergantung pada ke mana harga minyak bergerak dari sini. Jalur kenaikannya kemungkinan akan tetap bergejolak dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik hingga perdamaian yang lebih berkelanjutan benar-benar tercapai," ujar Waterer. Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang berlangsung pada 28–29 Juli. Pelaku pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, berdasarkan CME FedWatch Tool, para trader saat ini memperhitungkan peluang sekitar 76% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,7% menjadi US$ 59,16 per ons, platinum menguat 1,5% menjadi US$ 1.612,04 per ons, sementara palladium bertambah 1,6% ke level US$ 1.263,73 per ons.